Jumat, 27 April 2012

KHOT ARAB

Khot Arab 
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliyah
Seni Kaligrafi Islam Semester VI A Fakultas Tarbiyah
Yang Diampu Oleh : Drs. Ali Muqoddas, M.Ag.


 








Disusun Oleh:
1.      Anisa Rahmanti          (229.019)
2.      Choirun Nisa’              (229.028)
3.      Eni Rofikhah               (229.041)
4.      Dina Kasihani                         (229.034)
5.      Ainun Mukarimah       (229.013)
6.      Aliyatul Muna             (229.015)
7.      Anik Listanti               (229.017)
8.      Fera Amalia                 (229.042)


 

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’ (INISNU) JEPARA TAHUN 2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta inayahNya sehingga makalah dengan judul “Teknologi Pendidikan dan Pengaruhnya terhadap pembelajaran” dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliyah Seni Kaligrafi Islam Tarbiyah semester VI INISNU Jepara 2012, disamping itu untuk mengembangkan dan mengimplementasikan isi makalah ini, serta menunjang kemampuan menulis untuk melakukan suatu observasi yang khususnya terhadap masalah pendidikan.
Penyusunan serta materi dalam makalah ini berdasarkan pada prinsip yang terpadu yang dapat melibatkan penulis untuk mengembangkan minat dan bakat kemampuan penulis dalam suatu kegiatan yang bermanfaat.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya atas bantuan, dukungan, saran kritik serta bimbingan kapada yang terhormat:
1.    Drs. Ali Muqoddas, M.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliyah Seni Kaligrafi Islam.
2.    Teman-teman yang telah memberikan masukan pada makalah ini, dan tidak lupa bagi semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini yang tidak dapa disebut namanya satu persatu.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari bahwa sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kekurangan dan kekhilafan tersebut maka kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan pembuatan berikutnya sangatlah penyusun harapkan. Demikian pengantar dari penyusun, walaupun masih terdapat kekurangan namun penyusun sangatlah berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
Jepara, Maret 2012
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Seni merupakan suatu unsur yang sangat berkait erat dengan kehidupan manusia. Seni merupakan hasil dari pada gambaran yang terdapat dalam pemikiran manusia dan dihasilkan dalam pelbagai bentuk seperti tulisan, ukiran, lukisan dan sebagainya. Kesenian Islam merupakan hasil karya ciptaan manusia yang berteraskan kepada ciri-ciri Islam. Dengan mengkaji kesenian Islam tersebut, maka kita akan dapat memahami dan menghayati kehalusan seni yang terdapat dalam Islam. Islam bukan saja membenarkan kesenian dengan berbagai caranya, tetapi ia menggalakkan perkembangan kesenian tersebut. Namun demikian kebenaran Islam haruslah menepati dan seiring dengan syariat Allah S.W.T.
Ada satu lagi keistimewaan kesenian Islam yaitu dari segi kaligrafinya. Seni kaligrafi Islam atau lebih sinonim dengan nama ´seni khat´ merupakan khazanah tertua di dunia yang masih dimiliki oleh umat Islam. Perkembangan Islam yang tersebar ke seluruh pelosok dunia, menyaksikan kaligrafi Islam teradaptasi dengan perubahan yang berlaku tanpa menghilangkan ciri dan nilai keislamannya.
Keindahannya diabadikan di bangunan-bangunan, kubah masjid, keramik kaca selain diukir diatas kayu dan logam. Dari masa kemasa sejak zaman Rasulullah S.A.W. hingga hari ini, seni khat terus berkembang. Fungsinya tentunya bukan sekadar ornamen atau hiasan belaka, namun lebih dari itu, kaligrafi adalah sarana untuk beribadah, berdzikir (karena setiap melihat kaligrafi, kita akan ingat akan Allah SWT).

1.2.       Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulis merumuskan makalah sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan Khath Arab?
2.    Bagaimana pentingnya mempelajari kahth Arab?
3.    Apa tujuan mempelajari kahth Arab?
4.    Apa hubungan antara Khath Arab dengan Islam?

1.3.       Tujuan Penulisan
1.    Mahasiswa dapat mengetahui pengertian Khath Arab.
2.    Mahasiswa dapat menjelaskan pentingnya mempelajari khath Arab.
3.    Mahasiswa dapat mengetahui  tujuan mempelajari kahth Arab.
4.    Mahasiswa dapat menjelaskan  hubungan antara Khath Arab dengan Isl

BAB II
LANDASAN TEORI

A.           Pengertian Khath Arab
Kaligrafi secara umumnya mempunyai maksud seni penulisan yang indah. Apabila dikaitkan dengan Islam, membawa kepada seni penulisan Islam yang indah, yaitu tulisan khat. Perkataan kaligrafi ini berasal dari bahasa Yunani yaitu kalios yang berarti indah dan graphia yang berarti tulisan. Seni ini diciptakan dan dikembangkan oleh kaum muslim sejak kedatangan Islam. Sebagai bahasa yang memiliki karakter lembut dan artistik, huruf Arab menjadi bahan yang sangat kaya untuk penulisan kaligrafi. Kaligrafi Islam ini juga sangat berkaitan dengan Al-Quran dan hadis kerena sebagian besar tulisan indah dalam bahasa Arab menampilkan ayat al-Quran atau hadis Nabi S.A.W. (Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, Jilid 5.2001).
Pengertian khat dari segi bahasa : memindahkan ide-ide dari alam pemikiran, kekuatan imaginasi kepada alam nyata atau metarial seperti kertas, kulit, batu dan sebagainya melalui hasil kerja pena dan tangan.[1] setengah ahli bahasa menyamakan makna khat dengan tulisan simbolik,  kaligrafi dan hireografi. Arti Khat berasal dari kata bahasa arab "Khat" yang artinya garis. Khat juga mempunyai arti halus atau tulisan yang rapi indah dan mempunyai seni. Atau "Khati". Khat juga Bersifat seni pada tulisan arab yang di sebut "Khatil Aroby" yang artinya menulis indah huruf arab. Dan seorang yang mahir atau ahli dalam bidang khat disebut juga "Khathat" atau dalam bahasa umum "Kaligrapher". Menurut Abdul Rahman (2006) “Khat adalah rangkaian huruf-huruf hijaiyah yang memuat ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadist ataupun kalimat hikmah di mana rangkaian huruf-huruf itu dibuat dengan proporsi yang sesuai, baik jarak maupun ketepatan satuan huruf”.
Syaikh Syamsuddin Al Akhfani (Dalam Irsyad Al Qoshid, 2000) Kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan cara-cara merangkai menjadi sebuah kalimat tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya. Menurut Didin Sirojuddin (2006, 3); “Kaligrafi Islam adalah seni menulis huruf Arab dengan indah yang isinya mengenai ayat-ayat Al-Quran atau Al-Hadits.”
Jadi bisa disimpulkan sebagai berikut, kaligrafi Islam adalah seni menulis huruf Arab dengan indah, merangkai susunan huruf-huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara merangkai menjadi sebuah kalimat tersusun, yang isinya mengenai ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits.
 Kaligrafi berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah “tulisan indah”. Dalam sejarah peradaban Islam, seni tulis huruf Arab yang isinya berupa potongan ayat Alqur’an atau Hadits Nabi SAW ini mempunyai tempat yang sangat istimewa. Setiap muslim percaya bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan oleh Allah SWT ketika menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Bahasa ini juga digunakan dalam seluruh tata peribadatan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Karya-karya kaligrafi ini banyak menjadi hiasan di banyak bidang, mulai dari bangunan, koin, seni dekoratif, permata, tekstil, senjata sampai manuskrip.[2]
Seni khat bukan saja berperanan mengabadikan Al-Quran dalam bentuk tulisan akan tetapi juga turut mengabadikan sebagian ayat dari Al-Quran tersebut di bangunan-bangunan masjid, rumah dan sebagainya. Ahli khat bukan saja terdiri dari kalangan orang Arab bahkan perbagai keturunan Islam yang lain diseluruh dunia termasuk Parsi, Turki, India, Melayu dan lain-lain sebagainya. Perkembangan seni khat diseluruh dunia pesat sekali, seiring dengan perkembangan dakwah Islamiyyah dan ilmu Islam (Zulina Hassan 2009).
Diantara ahli khat yang terkenal ialah Ibrahim al-Syujairi yang menghasilkan khat jenis al-Jalil, al-Thuluthain dan al-Thuluth. Yusuf al-Syujairi pula merupakan tokoh terkenal dalam bidang ini. Beliau menghasilkan khat jenis al-Riayasi. Begitu juga dengan al-Hasan al Naqulah, Muhammad al-Samsari, Muhammad bin Asad, Abu Hasan Ali bin Hilal (terkenal karena telah menulis Al-Quran dengan berbagai gaya dan bentuk tulisan. Ada pendapat mengatakan sebanyak 64 buah Al-Quran perbagai gaya tulisan). Seni khat ini diambil alih oleh orang Mesir, India dan Turki selepas runtuhnya Baghdad. Seni ini menjadi semakin terkenal sehingga bertubuhnya beberapa institusi khat di perbagai negara Islam (Zulina Hassan 2009). Ibnu Muqla (886-940 M) adalah salah seorang kaligrafer terbaik pada masa awal perkembangan seni kaligrafi Islam. Dia mengembangkan prinsip-prinsip geometris dalam kaligrafi Islam yang kemudian banyak digunakan oleh para kaligrafer yang datang sesudahnya, dia juga berperan mengembangkan tulisan kursif yang di kemudian hari dikenal sebagai gaya Naskh yang banyak dipakai untuk menulis mushaf Alqur’an.[3]
Kaligrafi Islam awalnya, banyak ditulis di atas kulit atau daun lontar. Penemuan kertas di Cina pada pertengahan abad 9 M berperan cukup besar dalam perkembangan seni ini, kertas harganya relatif lebih murah, cukup melimpah, mudah dipotong dan dari sisi teknik pewarnaan lebih mudah daripada bahan-bahan yang dipakai sebelumnya.
Al-Bab.com menyatakan, Huruf Arab mempunyai 18 bentuk huruf yang berbeda. Antara lain, Arab ditulis dari kanan ke kiri, dan abjad yang berhubungan dengan bahasa Yunani, Fenisia, Aram, Abjad Latin dan Nabatian. Ada 28 huruf dalam alfabet Arab, yang dibentuk dengan salah satu bentuk dan kombinasi yang berbeda dari titik atas dan di bawah setiap bentuk dalam membuat Kaligrafi Arab.
Dalam bahasa arab, kaligrafi di sebut Khat (Khath). Sedangkan penulisnya dinamai khattath. Dalam buku khat sendiri, definisi kaligrafi diperjelas. Ada yang mengatakan bahwa kaligrafi merupakan rangkaian huruf-huruf hijaiyah yang memuat ayat-ayat Al Qur’an maupun hadist ataupun kalimat hikmah di mana rangkaian huruf-huruf itu dibuat dengan proporsi yang sesuai, baik jarak maupun ketepatan sapuan huruf.
Proporsi huruf itu sendiri dirumuskan sedemikian rupa dalam sebuah buku yang ditulis oleh para kaligrafer-kaligrafer ternama dengan menggunakan metode titik.
B.            Pentingnya Mempelajari Khath Arab
Kaligrafi adalah salah satu seni dalam Islam, yang banyak dikembangkan sejak zaman dahulu. Fungsinya tentunya bukan sekadar ornamen atau hiasan belaka, namun lebih dari itu, kaligrafi adalah sarana untuk beribadah, berdzikir (karena setiap melihat kaligrafi, kita akan ingat akan Allah SWT). Seni khat bukan saja berperanan mengabadikan Al-Quran dalam bentuk tulisan akan tetapi juga turut mengabadikan sebahagian ayat dari Al-Quran tersebut di bangunan-bangunan masjid, rumah dan sebagainya. Ahli khat bukan saja terdi dari kalangan orang Arab bahkan perbagai keturunan Islam yang lain diseluruh dunia termasuk Parsi, Turki, India, Melayu dan lain-lain lagi. Perkembangan seni khat diseluruh dunia pesat sekali, seiring dengan perkembangan dakwah Islamiyyah dan ilmu Islam.
Pembelajaran kaligrafi (khat) merupakan bentuk aktifitas fisik, sosial, dan cita rasa keindahan. Aktifitas dan cita rasa keindahan tertuang dalam kegiatan berekspresi, berkreasi dan berkarya melalui bentuk tulisan, pewarnaan dan karya, yang mencakup tentang gagasan seni dan keterampilan berkarya.
Kaligrafi juga dapat berperan membentuk kepribadian peserta didik secara menyeluruh, harmoni, mencakup logika, etika, estetika dan artistik dalam pengembangan kreatifitas, kepekaan rasa dan indera, serta beretika. Dan seni ini akan memenuhi kebutuhan perkembangan peserta didik dalam mencapai kecerdasan, emosional (EQ), kecerdasan intelektual (IQ), dan kreativitas (CQ), serta kecerdasan spiritual dan moral (ESQ).[4]

C.           Tujuan Mempelajari Kath Arab
Khad Arab bagi para mahasiswa jurusan kependidikan antara lain untuk memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai calon guru tentang teknik penulisan arab yang benar, baik dan indah, sekaligus memperkenalkan pengetahuan dan pemahaman tentang hakikat Seni Kaligrafi Islam. Terutama untuk calon pendidik agama Islam, yang akan banyak mengimplementasikan tulisan – tulisan Arab dalam proses pembelajaran nantinya.
   Kaligrafi Arab digunakan sebagai ganti untuk menampilkan keyakinan agama dan cerita sebagai ajang dakwah. Dalam menampilkan keyakinan agama dan cerita biasanya digunakanlah gambar sebagai medianya.  Mubireek Khalid dengan Seni Islam dan Organisasi Arsitekturnya menjelaskan bentuk kaligrafi, berdasarkan tulisan/ Kaligrafi Arab, menggunakan bentuk dan ukuran kata atau huruf dalam seni karena pemimpin agama Islam melihat potensi mengidolakan seni figural. Akibatnya, Kaligrafi Arab cukup populer digunakan sebagai bentuk ekspresi keagamaan dan merupakan bentuk seni yang sangat dihormati.
            Kegiatan berkaligrafi atau khat diberikan untuk menumbuhkan rasa keindahan dan artistik sehingga membentuk sikap kreatif, apresiatif dan kritis. Kaligrafi sebagai salah satu cabang seni Islam memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berkreasi serta menghasilkan suatu produk benda yang bermanfaat langsung. Perwujudan sikap kreatif, apresiatif dan kritis diperoleh melalui pembelajaran yang memuat aktifitas menanggapi dan berkreasi seni.[5]
Pembelajaran kaligrafi memiliki fungsi dan tujuan menumbuh kembangkan potensi, sikap dan ketrampilan. Secara rinci, fungsi dan tujuan kaligrafi adalah:
1.  Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan peserta didik melalui penelaahan jenis, bentuk, dan sifat fungsi, alat, bahan, proses dan teknik dalam membuat prosuk karya seni.
2. Mengembangkan kemampuan intelektual, imajinatif, ekspresif, kepekaan rasa estetik, kreatif, ketrampilan dalam menghargai terhadap hasil karya seni.
3. Secara estetis, kaligrafi memiliki unsur keindahan, hias dan plastisitas bentuk serta kekayaan ragam aksesoris dan iluminasinya yang menumbuhkan rasa estetika yang mendalam.
4. Kejelasan tulisan dan keindahan kaligrafi memudahkan informasi dan komunikasi baik di kalangan guru maupun peserta didik.[6]
Tujuan paling penting dari pengajaran kaligrafi ini adalah penggalian dan peningkatan rasa cinta kepada Al Qur’an hingga dapat mencapai puncak kecintaan. Semoga ilmu yang didapatkan dapat bermanfaat dan menambah keberkahan.

D.           Hubungan antara Khath Arab dengan Islam
Seni khat lahir hampir bersamaan dengan kelahiran Islam. Wahyu yang diterima oleh Rasulullah S.A.W. sejak awal lagi telah dicatat oleh para sahabat pada daun kayu, tulang dan sebagainya sehinggalah Al-Quran itu sempurna. Ini berarti seni khat diperlukan untuk mengabadikan Al-Quran dalam bentuk penulisan. Oleh karena itu, peranan seni khat dalam sejarah perkembangan Islam adalah yang paling utama dan mengatasi cabang seni yang lain (Noraini 2009).
Islam datang dengan membawa beberapa faktor tentang perlunya penggunaan tulisan yang semakin bertambah luas ruang penggunaannya. Bidang penulisan telah memasuki era baru yang bergemerlapan dengan kedatangan Islam. Selepas penghijrahan Nabi ke Madinah, seni khat telah menjadi manifestasi bagi suatu perubahan yang agung yang mengatasi perkembangannya selama tiga abad sebelum itu. Dengan turunnya lima ayat pertama kepada Nabi s.a.w yang dimulai dengan firman Allah s.w.t.: Iqra’ ( bacalah ), maka penulisan telah memperoleh kepentingan suci yang sehingga kini masih kukuh terpelihara Kemudian turun pula ayat-ayat lain yang sering mengaitkan penulisan dengan sumber ketuhanan dan memerintahkan penggunaannya sehinggalah tulisan mendapat kedudukannya dalam kehidupan umat Islam sebagai salah satu keperluan asas (Mohd Bakhir 2007).
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam bahasa Arab dengan perantaraan malaikat Jibril. Baginda menerima wahyu dan menyiarkannya sampai wafat pada tahun 632 M, sesudah itu wahyu tidak turun lagi dan penyebarannya dari orang mukmin yang satu kepada yang lain secara lisan oleh para Huffaz (mereka yang hafal al-Qur'an dan dapat membaca dalam hati).
Pada tahun 633, sejumlah huffaz ini terbunuh dalam peperangan yang timbul setelah wafatnya Nabi. Ini memberikan peringatan kepada kaum Muslimin, khususnya Umar bin Khatab. Umar mendesak Khalifah pertama Abu Bakar supaya mengerjakan penulisan al-Qur'an. Juru tulis Nabi, Zayd bin Thabit diperintahkan menyusun dan mengumpulkan wahyu ke dalam sebuah kitab, yang kemudian ditetapkan oleh Khalifah ketiga, Usman, pada tahun 651. Penyusunan yang disuci ini kemudian disalin ke dalam empat atau lima edisi yang serupa dan dikirim ke wilayah-wilayah Islam yang penting untuk digunakan sebagai naskah kitab yang baku.[7]

 
BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
1.         Pengertian khat dari segi bahasa : memindahkan ide-ide dari alam pemikiran, kekuatan imaginasi kepada alam nyata atau metarial seperti kertas, kulit, batu dan sebagainya melalui hasil kerja pena dan tangan.[8] setengah ahli bahasa menyamakan makna khat dengan tulisan simbolik,  kaligrafi dan hireografi.
2.         Kegiatan berkaligrafi atau khat diberikan untuk menumbuhkan rasa keindahan dan artistik sehingga membentuk sikap kreatif, apresiatif dan kritis.
3.         Tujuan mempelajari khad Arab bagi para mahasiswa jurusan kependidikan antara lain untuk memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai calon guru tentang teknik penulisan arab yang benar, baik dan indah, sekaligus memperkenalkan pengetahuan dan pemahaman tentang hakikat Seni Kaligrafi Islam. Terutama untuk calon pendidik agama Islam, yang akan banyak mengimplementasikan tulisan – tulisan Arab dalam proses pembelajaran nantinya.
4.         Seni khat lahir hampir bersamaan dengan kelahiran Islam. Wahyu yang diterima oleh Rasulullah S.A.W. sejak awal lagi telah dicatat oleh para sahabat pada daun kayu, tulang dan sebagainya sehinggalah Al-Quran itu sempurna. Ini berarti seni khat diperlukan untuk mengabadikan Al-Quran dalam bentuk penulisan. Oleh karena itu, peranan seni khat dalam sejarah perkembangan Islam adalah yang paling utama dan mengatasi cabang seni yang lain



B.       Saran
1.         Bagi para pendidik hendaknya memanfaatkan seni kaligrafi Islam sebagai penunjang dalam proses pembelajaran.
2.         Bagi umat Islam pada umumnya agar selalu mendukung dan ikut serta dalam melestarikan seni kaligrafi Islam sebagai sarana dzikir pada Allah SWT.
C.       Kata Penutup
Demikian makalah sederhana ini kami susun. Terima kasih atas antusias dari pembaca yang sudi menelaah dan mengimplementasikan isi makalah ini. Saran dan kritik konstruktif tetap kami harapkan sebagai bahan perbaikan. Sekian.


DAFTAR PUSTAKA

Fauzan, Suwito,.   Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, Jilid 5.2001).                                        



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar