Rabu, 07 November 2012

TELA‘AH PENJELASAN MATERI AKIDAH AKHLAK MADRASAH ALIYAH

TELA‘AH PENJELASAN MATERI
AKIDAH AKHLAK MADRASAH ALIYAH
MAKALAH
 Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Tela’ah Materi PAI 2
Dosen Pengampu: Drs. H. A. Slamet, M. S. I.
Description: Description: C:\Logo-logo\INISNU BENER.jpg
 



DISUSUN OLEH:


KELOMPOK 7
1.  Anik Listanti                        (229017)
2.  Zumala Laili                        (229079)         
3.  Chusniyatus Zahroh           (229029)
4.  Suliyati                                 (229160)
Fakultas/Semester: Tarbiyah/VI A
INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’
(INISNU ) JEPARA 2012
Jl. Taman Siswa No. 09 (Pekeng) Tahunan Jepara 59427
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sebesar-besarnya penulis  panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada penulis sehingga penulisan makalah ini dapat penulis selesaikan.
Dengan terselesaikannya makalah yang berjudul “Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah (MA)”, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Untuk itu penulis mengucapkan  banyak terima kasih yang tiada tara kepada:
1.      Bapak Drs. H. A. Slamet, M. S. I. selaku dosen mata kuliah Tela’ah Materi PAI 2 yang telah mencurahkan tenaga dan fikirannya demi terselesaikannya makalah ini.
2.      Teman-teman semua yang telah memberikan semangat serta dorongan demi keberhasilan penulisan makalah ini.
Teriring doa dan harapan semoga amal baik dan jasa dari semua pihak tersebut di atas akan mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT.
Penulis sangat menyadari, meskipun telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyusunan makalah ini, penulis yakin masih terdapat  banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sebagai bekal menuju yang lebih baik dan sempurna.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis pribadi dan bagi khazanah keilmuan pendidikan Islam. Amien.
Jepara, Juli 2012
    Penyusun

ABSTRAK
Anik Listanti (NIM. 229017), Zumala Laili (NIM. 2290179), Chusniyatus Zahroh (NIM. 229029), Suliyati (NIM. 229160). Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah.
Telaah ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengertian telaah penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah. 2) penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah. 3) telaah materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah.
Dalam menelaah materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah ini, penulis menfokuskan pada penjelasannya. Disamping itu, kami juga menelaah dari segi substansi buku  Akidah Akhlak yang kami telaah. Mulai dari judul buku, tata tulis, isi materi dan urutan sub bab yang ada serta bahasa yang digunakan.
Buku Akidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah yang berjudul “Menjaga Akidah dan Akhlak” terdapat dua buku, yaitu untuk kelas X dan kelas XI, sedangkan untuk kelas XII tidak ada bukunya. Jadi disini kami menelaah dua buku. Dan untuk penyampaian materi Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah, tergantung dari kebijakan sekolah.
Dari hasil telaah kami, ternyata buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah yang kami telaah ini cukup baik, setiap awal bab disajikan cover dengan ilustrasi sebagai gambaran awal tentang materi pelajaran yang akan dipelajari. Ada pula hal-hal yang perlu dibenahi, yaitu pada penjelasan materi berupa paragraf-paragraf panjang sehingga siswa akan jenuh untuk mempelajarinya, istilah asing yang belum disertai penjelasan dan juga tidak dicetak miring, kurangnya kesamaan arah antara lembar tugas dengan penjelasan materi, serta penulisan asma’ul husna yang belum disertai dengan tulisan bahasa arab dan masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi.
Diantara metode yang ada dalam proses pembelajaran, dalam kaitannya dengan materi Akidah Akhlak, metode yang tepat digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, dan suri tauladan.


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL            ……………………………………………………………...i
KATA PENGANTAR………………………………………………....................ii
ABSTRAK…………………………………………………………………...…..iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….……iv
BAB I PENDAHULUAN  
A.            Latar Belakang Masalah………………………………..…………….…1
B.            Rumusan Masalah………………………………..………………………1
C.            Tujuan  Penulisan………………………………………………………..2
D.            Manfaat Makalah……………………………….……………………….2
E.            Penilaian Umum…………………………………..………………...……3
F.             Sistematika Penulisan Makalah………………………..………………..4
BAB II            LANDASAN TEORI
A.  Pengertian Telaah Penjelasan Materi Aqidah Akhlak
Madrasah Aliyah……………………………………………………....…….5
B.  Substansi
1.    Judul ……………………………………………………………...………8
2.    Latar Belakang Masalah…………………………………………………9
3.    Fokus Telaah………………………………………………………….…..9
C.  Penjelasan  Materi Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah……………………9
BAB III ANALISIS
A.  Analisis per Semester................................................................................70
1.         Kelas X Semester 1............................................................................70
2.         Kelas X Semester 2............................................................................71
3.         Kelas XI Semester 1...........................................................................71
4.         Kelas XI Semester 2...........................................................................72
B.  Analisis dari Beberapa Aspek…………………………………………..…72
5.         Aspek Metodologi..............................................................................72
6.         Aspek Psikologi..................................................................................73
7.         Aspek Sosial.......................................................................................74
8.         Aspek Pendidikan..............................................................................74
9.         Aspek Penulisan dan Isi.....................................................................74
C.  Rekomendasi …………………………………………………………….…75
BAB IV PENUTUP
A.  Kesimpulan         ……………………………………………………………76
B.  Saran-saran        ……………………………………………………..……..76
C.  Kata Penutup     ………………………………………………...………….77
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..…78
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar Aqidah Akhlak terhadap perilaku siswa adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan dan diterapkan kepada siswa, agar siswa tersebut tidak terpengaruh oleh dunia bebas dan pergaulan bebas. Dengan demikian manfaat belajar pedidikan aqidah akhlak sangatlah penting dan sangat diperlukan untuk membimbing dan membina siswa agar memahami dan mengetahui manfaat belajar aqidah akhlak.
Manfaat belajar pendidikan aqidah akhlak di madrasah merupakan bagian tersendiri dari pendidikan. Agama merupakan factor yang menentukan prilaku/watak dan kepribadian siswa sehingga siswa dapat memotifasi untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (aqidah) dan akhlakul karimah (akhlak) dalam kehidupan sehari-hari, agar anak mempunyai perilaku dengan baik. Anak didik diharapkan dapat memperhatikan manfaat pendidikan pelajaran aqidah akhlak sebagai control dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Maka dari itu, dalam makalah ini penulis berusaha menela’ah materi Akidah Akhlak dari segi penjelasannya apakah sudah sesuai atau belum untuk diajarkan di madrasah aliyah.
B.  Rumusan Masalah
Melihat latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan dipaparkan dalam makalah ini adalah:
1.    Apakah pengertian telaah penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah?
2.    Bagaimana penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah?
3.    Sejauh mana kesulitan dan kemudahan penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah?
C.  Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan pada permasalahan yang diajukan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui pengertian dari telaah penjelasan materi Akidak Akhlak Madrasah Aliyah.
2.    Untuk mengetahui penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah.
3.    Untuk mengetahui sejauh mana kelebihan dan kekurangan penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah
D.  Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan di atas, nantinya diharapkan makalah ini bermanfaat bagi pemakalah maupun orang lain. Adapun manfaat yang ingin dicapai dari makalah ini adalah:
1.    Manfaat Teoritis
a.          Dapat mengetahui tentang Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah.
b.      Menambah khazanah ilmu
2.    Manfaat Praktis
a.    Manfaat untuk Mahasiswa
1)   Mengetahui tentang penjelasan materi Akidah Akhlak pada Madrasah Aliyah untuk diaplikasikan.
2)   Dengan adanya telaah ini, agar mahasiswa atau calon pendidik dapat menjelaskan tentang materi Akidah Akhlak dengan baik kepada peserta didikya kelak sebagai langkah awal sebelum mempraktekkan.
b.    Manfaat untuk Guru
1)   Dengan adanya penjelasan mengenai telaah penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah akan memudahkan guru untuk memahami maksud dan tujuan dari menelaah sehingga dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
2)   Dengan adanya penjelasan ini, akan memudahkan guru daam memberikan materi pada peserta didik.
c.     Manfaat untuk siswa
1)   Siswa dapat mengerti pentingnya menelaah untuk memahami suatu materi ajar.
2)   Akan memudahkan siswa dalam proses pemblajaran karena materi ajar telah dijelaskan sedemikian rupa.
E.  Penilaian Umum
Secara umum, Aqidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Aqidah Akhlak memberikan pengajaran tentang tata nilai yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, mengatur hubungan antara sesama manusia, mengatur hubungan dengan lingkungan dan mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian pelajaran Aqidah Akhlak merupakan pelajaran yang teoritis dan aplikatif. Pelajaran teoritis menanamkan ilmu pengetahuan, sedangkan pelajaran aplikatif membentuk sikap dan perilaku dalam kehidupan. Jadi, tolok ukur keberhasilan siswa tidak dapat diukur dengan tinggi rendahnya taraf intelektual anak (aspek kognitif), melainkan hendaknya harus dilihat dari sisi bagaimana karakteristik yang terbentuk melalui pendidikan formalnya (aspek afektif dan psikomotorik).[2]
F.   Sistematika Penulisan
Pada makalah yang kami buat, kami menyusun sistematika penulisan pada makalah, dimana pada makalah kami terdapat halaman judul, serta adanya kata pengantar, halaman abstrak dan daftar isi sebagai kata pembuka pada makalah kami.
Pada bagian isi terdiri dari empat bab yaitu : pendahuan, landasan teori, analisis dan penutup.
Pada bab I dalam makalah ini, terdapat bab pendahuluan yang memaparkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
Pada bab II makalah ini berisi tentang landasan teori, dalam bab ini menjelaskan tentang pengertian telaah penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah, substansi, penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah yang di dalamnya juga terdapat hasil telaah dari penyusun.
Pada bab III berisi tentang analisis dari berbagai aspek, antara lain aspek metodologi, psikologi, sosiologi, pendidikan dan juga aspek penulisan dan isi buku, serta adanya rekomendasi dari penyusun.
Pada bab IV makalah kami berisi tentang penutup,yaitu kesimpulan, saran dan kata penutup. Dan yang terakhir yang terdapat pada makalah kami adalah daftar pustaka.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.  Pengertian Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah
Untuk menghindari adanya salah penafsiran dan meluasnya permasalahan, sekaligus untuk memberikan pengertian yang sejelas-jelasnya, maka pemakalah perlu menegaskan istilah-istilah dalam judul makalah ini sebagai berikut:
1.    Pengertian Telaah
a.    Secara Etimologi
Telaah adalah suatu penyelidikan, kajian, pemeriksaan, dan penelitian.[3]
b.    Secara Terminologi
Telaah yaitu penyelidikan mengenai beberapa materi tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin ada pada materi yang dikaji.
2.    Pengertian Penjelasan
a.    Secara Etimologi
Penjelasan berasal dari kata jelas yang berarti nyata, dan ganblang.[4]
b.    Secara Terminologi
Penjelasan adalah keterangan yang lebih jelas, uraian yang menjelaskan tentang bahan yang di sampaikan.
3.    Pengertian Materi
a.    Secara Etimologi
Materi adalah benda, zat.[5]
b.    Secara Terminologi
Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan (untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, dsb).[6]
4.    Pengertian Akidah Akhlak
a.    Pengertian Akidah
1)   Secara Etimologi
Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “ ‘aqoda, ya’qidu, ’aqdan-‘aqidatan ” yang berarti simpulan, ikatan, sangkutan, perjanjian dan kokoh. Sedang secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan.[7]
2)   Secara Terminologi
Aqidah adalah hal-hal yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.[8]
b.    Pengertian Akhlak
1)   Secara Etimologi
Akhlak secara etimologi berasal dari kata “Khuluq” dan jama’nya “Akhlaq”, yang berarti budi pekerti, etika, moral.[9]
2)   Secara Terminologi
Akhlak adalah “sikap hati yang mudah mendorong anggota tubuh untuk berbuat sesuatu”.[10]
Jadi yang dimaksud dengan Akidah Akhlak adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang berupa budi pekerti atau kelakuan, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah.
5.    Pergertian Madrasah Aliyah
a.    Pengertian Madrasah
1)   Secara Etimologi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Madrasah berarti sekolah atau perguruan (biasanya yang berdasarkan agama Islam). Madrasah dilihat dari segi bahasa Arab berasal dari kata darasa yang artinya belajar, sedangkan madrasah itu sendiri berarti tempat belajar.
2)   Secara Terminologi
Madrasah berarti lembaga pendidikan yang mempunyai porsi lebih terhadap mata pelajaran Agama Islam.
b.    Pengertian Aliyah
1)   Secara Etimologi
Aliyah berarti sekolah agama (Islam) tingkat menengah atas.[11]
2)   Secara Terminologi
Aliyah adalah sebuah tingkatan yaitu tingkatan tinggi atau atas dalam suatu pendidikan.
Jadi Madrasah Aliyah adalah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat tinggi atau atas dan menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran dasar.
Dari pengertian diatas bisa dipahami bahwa judul yang dimaksud dengan Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah adalah penyelidikan mengenai beberapa materi tentang kesulitan-kesulitan, kemudahan, kekurangan, kelebihan yang mungkin ada pada materi yang ditelaah, dengan menjelaskan tentang bahan yang disampaikan yaitu yang mengenai suatu kepercayaan atau keyakinan yang berupa budi pekerti atau kelakuan, baik akhlak yang terpuji atau akhlak al-karimah maupun yang tercela atau akhlak al-madzmumah pada lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat tinggi atau atas dan menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran dasar.
B.  Substansi
1.    Judul
Judul buku yang kami telaah adalah “Menjaga Akidah dan Akhlak” yang disusun oleh Roli Abdul Rahman dan M. Khamzah. Diterbitkan oleh PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo.
Terdiri dari dua buku yaitu untuk kelas X berisi 129 halaman  terbit tahun 2007, untuk kelas XI berisi 132 halaman terbit tahun 2008.
Menurut kami pemakalah, judul buku tersebut sudah sesuai dengan program untuk dijadikan sebuah judul buku pada tingkat Madrasah Aliyah, dimana judul tersebut mempunyai maksud agar siswa Madrasah Aliyah bisa menerapkan pada kehidupan sehari-hari yaitu menjaga Akidah dan Akhlaknya.
2.    Latar Belakang Telaah
Seiring perkembangan zaman, banyak kebutuhan yang semakin dibutuhkan oleh manusia, termasuk kebutuhan dalam bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan banyak hal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik, baik dari segi sarana prasarana maupun materi yang diajarkan. Untuk mendapatkan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa, maka diperlukan buku ajar yang relevan untuk menunjang proses belajar mengajar. Sebuah buku ajar yang baik adalah sebuah buku yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu, di sini kami menelaah sebuah buku ajar materi Akidah Akhlak tingkat Madrasah Aliyah, agar dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan buku ajar tersebut, sehingga nantinya didapati sebuah buku ajar yang mudah dipahami oleh peserta didik.
3.    Fokus Telaah
Telaah yang kami lakukan ini memfokuskan pada penjelasan yang ada pada materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah.
C.  Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah
1.    Penjelasan Materi Akidah Akhlak Kelas X Semester 1
a.    BAB I: AKIDAH
1)   Pengertian Akidah
Akidah adalah keyakinan yang dikaitkan dengan rukun iman dan merupakan asas dari seluruh ajaran Islam.
2)   Prinsip-Prinsip Akidah
Dalam surat Ali Imran/3 : 64 dijelaskan bahwa dalam peribadatan Islam hanya kepada Allah. Apapun bentuk ibadah di dalam Islam hanya ditujukan untuk Allah, baik shalat, zakat, puasa, haji, maupun perkataan atau perbuatan yang ada hubungannya dengan sesama manusia atau dengan alam serta lingkungan sekitarnya.
3)   Ruang Lingkup Akidah
Hasan al-Banna mengatakan bahwa ruang lingkup pembahasan Akidah Islam meliputi Ilahiyah (tentang Allah), nubuwwah (tentang nabi dan rasul), ruhaniyah (tentang alam metafisik), dan sam’iyah (tentang pengetahuan sama’i).
4)   Metode Peningkatan Akidah
Kemantapan iman dapat diperoleh dengan menanamkan kalimat tauhid la ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Tiada yang dapat menolong, memberi nikmat, kecuali Allah. Kebahagiaan di segenap lapangan hanya diperoleh dengan jalan berakhlak mulia.
Seorang yang kuat imannya, jiwanya selalu tenang, tidak goncang menghadapi segala sesuatu sebab di dalam jiwanya hidup rasa persaudaraan, persamaan, dan kemanusiaan. Iman yang subur dan sehat menghilangkan sifat dengki dan cemburu.
5)   Kualitas Akidah dalam Kehidupan
Keimanan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu, keimanan menjadi aspek yang pertama dan terpenting untuk menjadi muslim yang sejati. Muslim berarti kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Kepatuhan kepada Allah tidak mungkin tumbuh dalam diri seeorang jka ia tidak mempunyai keyakinan dan keimanan terhadap kalimat tauhid. Atau dengan kata lain, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Pengertian Akidah
Pada sub bab ini penjelasannya sudah baik berisi tentang pengertian akidah menurut bahasa, istilah dan menurut beberapa ulama’. Juga disertai  dalil naqli tentang akidah yaitu Q.S. Al-A’raf 7: 127.
b)   Prinsip-prinsip Akidah
Pada sub bab ini belum berisi prinsip-prinsip akidah secara spesifik.
c)    Ruang lingkup Akidah
Pada sub bab ini sudah baik, ruang lingkup akidah dijelaskan secara spesifik berupa 4 point dengan jelas.
d)   Metode  peningkatan Akidah
Sama seperti prinsip-prinsip akidah, disini tidak dijelaskan metode peningkatan akidah dengan spesifik, hanya berisi tentang iman.
e)    Kualitas Akidah dalam kehidupan
Disini sudah dijelaskan  dengan baik kualitas Akidah sesuai dalil Allah Q.S. Ibrahim/14 : 24-27 yaitu laksana pohon kayu yang besar.
b.   BAB II: TAUHID
1)   Pengertian Tauhid
Tauhid sebagai pengetahuan kesaksian, keyakinan, dan keimanan terhadap keesaan Allah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya.
2)   Makna Kalimat Tauhid La Illaha Illallah
Adapun la ilaha illallah mempunyai pengertian sebagai berikut:
a)    La khaliqa illallah (tidak ada Yang Pencipta, kecuali Allah);
b)   La raziqa illallah (tidak ada Yang Maha Memberi Rezeki, kecuali Allah);
c)    La hafiza illallah (tidak ada Yang Maha Memelihara, kecuali Allah);
d)   La mudabbira illallah (tidak ada Yang Maha Mengelola, kecuali Allah);
e)    La malika illallah (tidak ada Yang Maha Memiliki Kerajaan, kecuali Allah);
f)    La waliya illallah (tidak ada Yang Maha Pemimpin, kecuali Allah);
g)   La hakima illallah (tidak ada Yang Maha Menentukan Aturan, kecuali Allah);
h)   La gayata illallah (tidak ada Yang Maha Menjadi Tujuan, kecuali Allah);
i)     La ma’buda illallah (tidak ada Yang Maha Disembah, kecuali Allah).
3)   Macam-Macam Tauhid
a)    Tauhid Rububiyah
Makna rububiyah mewujud dalam fenomena penciptaan, pemberian rezeki, juga pengelolaan dan penguasaan alam semesta ini.
b)   Tauhid Mulkiyah
Tauhid mulkiyah bearti sebuah pandangan yang meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya dzat yang menguasai alam semesta ini, dengan hak penuh penetapan peraturan atas kehidupan.
c)    Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah sebuah keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang memiliki dan menguasai langit, bumi, dan seisinya, satu-satunya yang wajib ditaati dan yang menentukan segala aturan serta yang melindungi.
d)   Tauhid Rahmaniyah
Tauhid rahmaniyah merupakan perwujudan dari setiap sikap muslim yang memiliki tuntutan untuk memberikan dan menebarkan kasih sayang pada seluruh alam semesta. 
4)   Urgensi Mengenal Allah
a)    Istiqamah di jalan Allah
b)   Stabil dan optimis
c)    Berani dan tidak pengecut
d)   Hidup penuh berkah
e)    Ikhlas beramal
f)    Tidak mudah putus asa.
5)   Nilai Positif Tauhid
Dengan bertauhid, seorang hamba akan merasa dekat dengan Allah. Dapat menciptakan kemerdekaan jiwa dari kekuasaan orang lain. Dapat menumbuhkan jiwa patriotism. Dapat menumbuhkan keyakinan bahwa rizeki seluruh makhluk ditanggung Allah. Dapat mendatangkan ketenagan jiwa. Dapat mengangkat derajat seseorang menjadi lebih tinggi. Dapat menciptakan keadilan dan kemakmuran di muka bumi.
6)   Sosok Teladan Bertauhid
Nabi Ibrahim a.s. sebagai sosok teladan bertauhid. Selain sosok Nabi Ibrahim a.s. pada zaman Rasulullah saw. ada seorang pemuda yang memiliki keteguhan iman.
7)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Pengertian Tauhid
Tentang pengertian tauhid sudah dijelaskan dengan baik, namun pada paragraph berikutnya ada keterangan bahwa keesaan Allah tidak perlu dalil  pembuktian, menurut kami hal itu tidak perlu dicantumkan karena keesaan Allah ada dalilnya, salah satunya terdapat pada surat al-Ikhlas.
b)   Makna kalimat Tauhid La ilaha illallah
Dijelaskan arti ilah dengan 9 makna, namun makna kalimat la ilah illallah belum dijelaskan artinya, sehingga isi dengan judul sub bab kurang sejalan.
c)    Macam-macam tauhid
Ada 4 macam tauhid, namun pada tauhid uluhiyah belum ada dalilnya, sedangkan 3 yang lain sudah disertai dalil.
d)   Penjelasan tentang urgensi
Mengenal Allah, nilai positif tauhid dan sosok teladan bertauhid, menrut kami sudah baik dan jelas, hanya saja pada penulisannya lebih mudah dipahami jika dibuat point-point saja, bukan berbentuk paragraf panjang.
c.    BAB III: SYIRIK DALAM ISLAM
1)   Pengertian Syirik
Syirik artinya menyekutukan Allah dengan makhuk-Nya, baik dalam dimensi rububiyah, mulkiyah, ilahiyah, secara langsung atau tidak, maupun secranyata atau terselubung.
2)   Klasifikasi Syirik
a)    Syirik Besar
Syirik besar adalah menjadikan bagi Allah sekutu (niddan) yang (dia) berdoa kepadanya seperti berdoa kepada Allah.
Syirik besar terdiri dari tiga jenis, yaitu syirik dalam berdoa, syirik dalam niat, iradah, dan tujuan, serta syirik dalam ketaatan.
b)   Syirik Kecil
Syirik kecil adalah semua perkataan dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan.
3)   Macam-Macam Syirik
Menurut klasifikasi umum, syirik dibagi menjadi empat jenis, yaitu syirkul ‘ilm, syirkul-tasarruf, syirkul-‘ibadah, dan syirkul ‘addah.
4)   Kriteria Orang yang Syirik
Syirik bukan hanya sikap seseorang yang mengagung-agungkan sesuatu dari kalangan sesame makhluk, termasuk sesame manusia (kultus), tetapi syirik juga meliputi sikap mengagung-agungkan diri sendiri.
5)   Akibat Negatif Perbuatan Syirik
Akibat yang ditimbulkan dari syirik, antara lain sebagai berikut:
a)    Tidak dapat menerima kebenaran
b)   Selalu dalam keadaan bimbang dan ragu
c)     Kesenangan yang diperoleh bersifat sementara
d)   Harta yang dinafkahkan akan sia-sia
e)    Nilai orang-orang kafir adalah seburuk-buruk makhluk
f)    Menjadi musuh Allah
g)   Mendapat siksa di neraka.
6)   Hikmah Menghindari Perbuatan Syirik
Menurut pendapat al-Maududi, seseorang yang dapat membebaskan dirinya dari perbuatan syirik, maka imannya akan kukuh dan memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia secara nyata, antara lain sebagai berikut:
a)    Menjadikan manusia yang memiliki pandangan yang luas.
b)   Mengangkat manusia ke derajat yang paling tinggi dan mulia.
c)    Mengalirkan rasa kesederhanaan dan kesahajaan.
d)   Membuat manusia menjadi suci dan benar.
e)    Memunculkan kepercayaan yang teguh dalam segala hal.
f)    Tidak mudah putus asa dengan keadaan yang dihadapi.
g)   Menumbuhkan keberanian dalam diri manusia.
h)   Mengembangkan sikap cinta damai dan keadilan.
i)     Menjadi taat dan patuh kepada hokum-hukum Allah.
7)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan syirik dalam islam sudah baik dan jelas. Namun ada beberapa hal yang menurut kami terdapat kekurangan yaitu:
a)      Pada point syirik besar, jenisnya ada irodah, disini penjelasannya belum ada pada point tersebut ataupun pada kamus kecil yang terdapat pada buku.
b)      Cara menghindari perbuatan syirik belum ada, padahal pada lembar tugas ada pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut.
d.   BAB 4: AKHLAK
1)   Pengertian Akhlak
Menurut Imam al-Gazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah serta tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2)   Ruang Lingkup Akhlak Terpuji
Muhammad Abdullah Daraz dalam kitabnya Dustur al-Akhlaq fi al-Islam membagi ruang lingkup akhlak menjadi lima bagian:
a)    Akhlak pribadi (al-Akhlaq al-Fardiyyah)
b)   Akhlak berkeluarga (al-Akhlak al-Usairiyyah)
c)    Akhlak bermasyarakat (al-Akhlak al-Ijtima’iyyah)
d)   Akhlak bernegara (al-Akhalk ad-Dauliyyah)
e)    Akhlak beragama (al-Akhlak ad-Diniyyah).
Menurut pendapat jumhur ulama, ruang lingkup akhlak dikelompokkan menjadi tiga hal, yaitu hubungan manusia dengan Allah. Manusia dengan manusia, manusia dengan alam.
3)   Gambaran Umum Akhlak Tercela
Adapun jenis akhlak tercela yang harus dihindari oleh setiap muslim, yaitu sebagai berikut:
a)     Setiap ucapan atau perbuatan yang dilarang Al-Qur’an adalah termasuk akhlak tercela dan buruk.
b)   Setiap sesuatu yang diharamkan Allah kalau direnungkan dengan saksama ternyata merupakan perbuatan yang keji, buruk, batal, sesat, dan maksiat yang menimbulkan kerugian bagi individu serta masyarakat, bahkan menimbulkan permusuhan, kebencian dan percekcokan.
c)    Setiap cerita atau berita mengenai orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya yang disampaikan Al-Qur’an mempunyai tujuan agar kaum muslimin menjauhi perbuatan tercela yang membawa murka Allah.
d)   Setiap ancaman yang diancamkan Allah kepada salah satu hamba-Nya menunjukkan bahwa orang yang menerima ancaman itu telah melakukan perbuatan ynag tidak diridai-Nya.
4)   Metode Peningkatan Kualitas Akhlak
Al-Qur’an banyak mengunkapkan hal-hal yang berhubungan dengan akhlak, baik berupa perintah berakhlak terpuji maupun larangan berakhlak tercela. Inilah yang membuktika betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam. Akhlak akan membaa kemaslahatan dan kemuliaan hidup.
5)   Kualitas Akhlak dalam Kehidupan
Prinsip umum yang dapat menyelamatkan kaum muslimin dari kebimbangan, kebingungan, dan keguncangan dalam menghadapi kehidupan meliputi komitmen dengan jalan hidup Islam, loyal kepada Allah, rasul-Nya, dan Islam, kesungguhan dalam menjalani kehidupan, sikap toleran (tasamuh) dan memaafkan, serta sikap moderat terhadap orang lain dan segala sesuatu.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan tentang ahlak sudah cukup baik, namun ada beberapa kekurangan diantaranya:
a)    Pada sub bahasan metode peningkatan kualitas ahlak dan kualitas akhlak dalam kehidupan, penjelasannya tidak sesuai dengan judul sub babnya. Kemudian antara keduanya memiliki keterkaitan, jadi lebih baik kedua sub bahasan tersebut dijadikan satu.
b)   Dalam lembar tugas ada pertanyaan tentang manfaat ahlak terpuji dan akibat ahlak tercela, tapi dalam penjelasan di bab ahlak tidak ada penjelasan tentang hal tersebut.
2.    Penjelasan Materi Akidah Akhlak Kelas X Semester 2
a.    BAB 5: ASMAUL HUSNA
1)   Pengertian Asmaul Husna
Secara bahasa asmaul husna diartikan sebagai nama-nama Allah yang agung, karena yang menetapkan asmaul husna ini adalah Allah, maka barang siapa yang memahami dan meneladani akan mendapatkan manfaat yang besar di dunia dan akhirat
2)   Menguraikan Sepuluh Asmaul Husna
a)    Al-Muqsit (Allah Yang Maha Mengadili)
b)   Al-Waris (Allah yang Maha Mewarisi)
c)    An-Nafi’ (Allah Yang Maha Pemberi Manfaat)
d)   Al-Basit (Allah Yang Maha Melapangkan Rezeki)
e)    Al-Hafiz (Allah Yang Maha Menjaga)
f)    Al-Waliyy (Allah Yang Maha Melindungi)
g)   Al-Wadud (Allah Yanh Maha Pengasih)
h)   Ar-Rafi’ (Allah Yang Maha Meninggikan)
i)     Al-M’uizz (Allah Yang Maha Memuliakan)
j)     Al-‘Afuww (Allah Yang Maha Pemaaf)
3)   Bukti Kebenaran dalam Sepuluh Asmaul Husna
a)    Al-Muqsit (Maha Mengadili)
Pengadilan Allah berlaku dalam kehidupan di dunia melalui hukum-hukum alam yang ditetapkan dan berlaku untuk semua mahluk-Nya. Pengadilan yang besar dan agung akan terjadi setelah kiamat. Pada saat itu, manusia akan dibangkitkan dari alam kubur untuk menjalani proses pengadilan guna menentukan kehidupan di alam abadi ke surga atau ke neraka. Semua mahluk akan benar-benar merasakan dan menerima keputusan dan keadilan Allah.
b)   Al-Waris (Pemilik Yang Sejati)
Kalau sekiranya hamba mengetahui bahwa semua yang hamba miliki sejatinya milik Allah, maka barang tentu ia tidak kikir atau bakhil karena sesungguhnya orang-orang yang pelit dan para penimbun harta itu mencelakakn diri mereka sendiri. Allah tidak membutuhkan mereka, tetapi merekalah yang butuh Allah.
c)    An-Nafi’ (Dzat Yang Paling Berkuasa)
Allah merupakan dzat yang paling berkuasa untuk memberikan manfaat kepada seluruh mahluk-Nya sebagai bukti kekuasaan Allah terhadap mahluk-Nya. Karena manusia sebgaai mahluk yang memiliki kesadaran akan keberadaan Allah, maka manusia harus menunjukkan sikap positif terhadap semua manfaat yang diberikan Allah kepadanya dengan bersyukur dan taat terhadap ketentuan-Nya. Agar tidak melahirkan sikap kufur dan zalim.
d)   Al-Basit (Maha Melapangkan)
Maha melapangkan merupakan sifat Allah yang mencabut roh manusia pada saat kematian dan menempatka roh dalam tubuh manusia pada awal kehidupan. Hal-hal yang diberikan Allah kepada mahluk-Nya merupakan nilai yang tak terbatas. Dengan kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, Allah melipatgandakan atau melimpahkan sarana nafkah kepada siap yang di kehendaki-Nya, begitu juga sebaliknya. Jika Allah menyempitkan maka tiada satupun mahluk yang bisa menghalanginya.
e)    Al-Hafiz
Tak satu partilkel atom pun terlepas dari pengawasan dan pemeliharaan-Nya atas apa yang mereka lakukan, buruk atau baik. Dia juga menjaga langit dan bumi dengan segala kekuasaan-Nya.
f)    Al-Waliyy ( Yang Maha Melindungi)
Orang yang beriman akan senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Perlindungan Allah sangat diperlukan oleh semua mahluk. Segala bentuk perlindungan Allah pada mahluk-Nya akan dapat menjamin kelancaran dan kesuksesan mahluk dalam menjalani kehidupan dan menyelamatkan mahluk dari segala cobaan, musibah ataupun azab.
Sedangkan orang yang akan dijauhkan dari perlindungan Allah dan tidak akan dapat merasakan kebahagiaan yang hakiki, bahkan nanti diakhirat akan menerima akibat drai kekafirannya berupa azab neraka.
g)   Al-Wadud ( Yang Maha Mengasihi)
Allah mengasihi hamba-Nya yang shaleh dengan memberikan nikmat yang tampak maupun tidak. Allah memuliakan keturunan Adam daripada mahluk lainnya. Mereka diberi hati, pendengaran maupun penglihatan dan dengan menurunkan Rasul untuk membimbing manusia kearah jalan yang lurus. Allah menurunkan rasul dan kitabnya agar manusia dapat mengenal-Nya dan itulah yang lebih disukai-Nya.
h)   Ar-Rafi’ ( Dzat Yang Maha Tinggi)
Allah sebagai dzat yang maha tinggi, tidak ada satupun mahluk yang mampu menandingi ketinggian-Nya. Dan allah akan meninggikan derajat bagi mereka yang beriman kepada Allah SWT dan bagi mereka yang senantiasa mendekatkan diri atau tawaduk kepada-Nya. Sebaliknya, dia akan merendahkan orang-orang yang kafir dan ingkar kepada-Nya, dan yang senantiasa mengingkari atas nikmat yang diberikan-Nya.
i)     Al-Mu’iz
Allah memuliakan orang-orang yang jiwanya tenang sehingga mereka mengetahui keindahan kehadirat Allah SWT. mereka diberi ketenangan hati sehingga tak lagi memerlukan apa-apa selain Allah.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari tidak semua orang mendapatkan kemuliaan dari Allah. Ada sebagian manusia yang mendapatkan kehinaan akibat perbuatan yang dilakukan.
j)     Al-‘Affuw (maha pemaaf)
Sebenarnya Allah memaafkan karena keterbatasan dan ketidak sempurnaan hamban. Salah satu sifat pemaaf-Nya adalah bahwa Dia menutupi sebagian besar dosa hamba-Nya kelak di akhirat. Dia memperlihatkan pada mereka sejumlah dosa mereka, kemudian memberikan kabar gembira kepada mereka akan pengampunan-Nya, bahkan dia akan menggantikannya dengan kebaikan.
4)   Perilaku Orang yang Mengamalkan Sepuluh Asmaul Husna
a)    Mengamalkan sifat  Al-Muqsit, maka dalam setiap langkah kehidupannya seseorang senantiasa mengingat keadilan Allah.
b)   Mengamalkan sifat Al-Waris seseorang selalu mengingat kebesaran Allah.
c)    Mengamalkan sifat An-Nafi’ seseorang senantiasa mensyukuri segala nikmat Allah.
d)   Mengamalkan sifat Al-Basit seseorang senantiasa mengingat pemberian Allah kepada hambaNya.
e)    Mengamalkan sifat Al-Hafiz  seseorang senantiasa mengingat pertolongan Allah terhadap hamba-Nya.
f)    Mengamalkan sifat Al-Waliyy seseorang senantiasa mengingat kekuasaan Allah terhadap hamba-Nya.
g)   Mengamalkan sifat Al-Wadud, seseorang senantiasa mengingat kasih saying Allah terhadap semua mahluk-Nya.
h)   Mengamalkan sifat Ar-Rafi’, seseorang seantiasa menghargai usaha atau ikhtiar  yang dilakukan setiap manusia.
i)     Mengamalkan sifat Al-Mu’izz, seseorang senantiasa mengingat kemuliaan Allah.
j)     Mengamalkan sifat Al-‘Afuww, seseorang senantiasa mengingat ampunan Allah terhadap hamba-Nya.
5)   Meneladani Sifat Allah dalam Sepuluh Asmaul Husna
a)    Al-Muqsit: agar seorang mukmin  dapat meneladani sifat Allah yang maha mengadili, maka harus menerapkan prinsip kebenaran dan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan.
b)   Al-Waris: agar seorang mukmin dpaat meneladani sifat Allah yang maha mewarisi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip regenerasi (pergantian), kaderisasi (penyiapan kader).
c)    An-Nafi’: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha pemberi manfaat, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip manfaat.
d)   Al-Basit:  agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha melapangkan rizqi , yang artinya memberikan jalan kemudahan bagi setiap orang untuk menyelesaikan urusannya.
e)    Al-Hafiz: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha menjaga, artinya selalu menjalankan aktifitas yang memeeberikan makna terhadapa kelangsungan hidup bersama secara berkesinambungan dan sistematis.
f)    Al-Waliyy: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha melindungi, artinya melindungi dan mengamankan segala kemungkinan yang mengganggu roda kehidupan.
g)   Al-Wadud: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha pengasih , maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip kasih saying tanpa pilih kasih.
h)   Ar-Rafi’: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha meninggikan, artinya perjalanan naik menghadap Allah untuk mendapatkan amanah yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan yang dirahmati dan di ridhoi.
i)     Al-Mu’iz: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha memuliakan, artinya bersungguh-sungguh menghiasi diri dengan ahlak karimah untuk mendapatkan keuliaan di sisi Allah.
j)     Al-Afuww: agar seorang mukmin dapat meneladani sifat Allah yang maha pemaaf, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip ampunan yang akan diberikan kepada org yang menyadari dan meningglakan kesalahan yang telah dilakukan.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Pada bab ini belum dijelaskan tentang manfaat atau hikmah memahami dan meneladani asmaul husna. Padahal dalam penjelasan  bab ini disebutkan bahwa “barang siapa yang memahami dan meneladaninya akan mendapatkan manfaat yang besar”.
b)   Dalam penyebutan sepuluh asmaul husna hanya ditulis menggunakan bahasa Indonesia tidak disertakan penulisan asmaul husna dengan bahasa arab, jika seperti itu maka siswa kurang mengerti bahkan tidak tahu penulisan asmaul husna dengan bahasa arab yang benar.
c)    Pada sub bab menguraikan sepuluh asmaul husna, masing-masing disertai dalil, namun ada dua tempat yang tidak disertai dalil, yaitu pada penjelasan An-Nafi’ dan Al-‘Afuww.
b.   BAB 6: PERILAKU TERPUJI
1)   Husnuzan
a)   Pengertian Husnuzan
Husnuzan diartikan berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.
b)   Kriteria Husnuzan
Salah satu bacaan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW  kepada kita ialah tasbih, yaitu ucapan subhanallah (maha suci Allah) maksudnya adalah Allah maha suci atau maha bebas dari setiap pikiran kita yang negative mengenai Dia. Ucapan yang berdampingan dengan tasbih ialah tahmid, Yaitu bacaan Alhamdulillah ( segala puji bagi Allah). Sikap tersebut tidak boleh dikacaukan dengan sikap fatalisme, yaitu sikap putus asa terhadap masa depan. Ucapan tasbih dan tahmid, dikaitkan pula dengan ucapan takbir, yaitu Allah Akbar ( Allah maha besar). Dengan ucapan itu kita menanamkan tekat  hendak mengarungi lautan hidup ini.
c)    Nilai Positf Husnuzan
Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari sikap husnuzan antara lain sebagai berikut:
(1)Melahirkan kesadaran bagi umat manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan sesuai dengan aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah.
(2)Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ditetapkan Allah.
(3)Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah
(4)Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia
(5)Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup
d)   Membina Sikap Husnuzan
Hendaklah dicermati dengan sungguh-sungguh bahwa semua hokum dan kewajiban yang diberikan kepada orang beriman adalah untuk kepentingan manusia sendiri, bukan untuk kepentingan Tuhan. Taat dan berserah dirilah hanya kepada Allah dan berhusnuzan kepada-Nya. Gantungkan dan tundukkan diri hanya kepada Allah, niscaya Dia akan menolong dan membimbing hamba-Nya ke jalan yang benar.
2)   Tobat
a)   Hakikat Tobat
Orang bertobat kepada Allah adalah orang yang kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat-sifat terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridai-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya, dan kembali taat setelah menentang-Nya.
b)   Penggolongan Tobat
Secara umum para ahli makrifah membagi tobat menjadi tiga bagian, yaitu tobat awam, khawas, akhas al-Khawas.
c)    Tata Cara untuk Bertobat
Untuk melakukan tobat yang sempurna,seseorang yang bersalah harus memenuhi lima tahapan, menyadari kesalahan, menyesali kesalahan, memohon ampun kepada Allah, berjanji tidak akan mengulanginya, dan menutupi kesalahan masa lalu dengn amal saleh.
d)   Jenis Dosa dan Cara Tobatnya
Secara umum, perbuatan dosa dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu dosa yang berkaitan denagn hak Allah, yang berkaitan dengan hak Allah yang wajib ditutupi atau di-qada, yang berkaitan dengan hak manusia yang tidak membutuhkan kepada pengganti, dosa yang berkaitan dengan hak manusia yang wajib dikembalikan kepada mereka.
e)    Membiasakan Diri Bertobat
Setiap manusia sudah seharusnya ingat akan suasana tobat yang senantiasa tumbuh didalam hati setiap muslim hingga meninggal dunia. Jika seseorang bertobat dari dosanya dengan tobat yang sesungguhnya ( taubatan Nasuha), maka tidak ubahnya dia seperti orang yang tidak mempunyai dosa samas ekali. Setelah bertobat, seseorang tidak ubahnya seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya. Setiap orang yang berputus asa dari rahmat Allah, berarti dia telah melakukan dosa besar yang telah mendekati batas kekufuran. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat. Artinya Allah SWT menyukai seseoang yang bertobat, meskipun dia telah merusak tobatnya sebelumnya.
3)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Pada lembar tugas ada pertanyaan tentang akibat tidak memiliki sikap husnuzan, tapi dalam penjelasan sub bab husnuzan tidak ada point tentang akibat tidak memiliki sikap husnuzan. Sehingga siswa mungkin saja kesulitan menjawabnya karena tidak ada bacaan yang berkaitan dengan hal tersebut.
b)   Pada point membiasakan diri bertaubat, penjelasannya kurang spesifik, harusnya langsung dijelaskan point-point dan bukan penjelasan berupa paragraph-paragraf  yang panjang, sehingga siswa kurang bias memahami penjelasan tersebut.
c.    BAB 7: PERILAKU TERCELA
1)   Ria
a)   Pengertian Ria
Ria pada hakekatnya adalah melakukan sesuatu karna ingin dilihat atau ingin dipuji orang lain. Apabila seseoarng melakukan sesuatu hanya karena ingin dipuji orang lain maka berarti ia telah melakukan syirik kecil.
b)   Meluruskan Pamrih
Pamrih ialah keinginan untuk dilihat orang, dalam istilah keagamaan di sebut ria. Jika ingin didengar orang, misalny agar nama menjadi terkenal, maka istilahnya disbeut sum’ah. Baik ria atau sum’ah, kedua-duanya sejenis kemunafikan karena keduanya mengandung semangat bahwa kita berbuat tidak untuk tujuan sesungguhnya melainkan untuk tujuan lain yang kita sembunyikan, yang nilai tujuan itu tidaklah terlalu mulia. Jadi, kita tidak lulus dalam amal perbuatan yang kita lakukan.
c)    Ria Merusak Amal Perbuatan
Penyakit ria menjadikan amal perbuatan menjadi ringan dan kosong. Berdasarkan pendapat jumhur ulama’, sesungguhnya ria membatalkan amal perbuatan. Disamping menyebabkan batalnya amal perbuatan, ria juga termasuk perbuatan dosa besar bahkan AL-qur’an menganggap dosa ini sudah termasuk kedalam batasan kufur. Oleh karena itu, janganlah kita membatalkan amal perbuatan yang sudah dikerjakan dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan sipenerima.
d)   Ria Merusak Keimanan
Apabila salah seorang dari kita menunaikan kebutuhan kaum muslimin, namun pada saat yang sama dia menyebut-nyebut pertolongan yang telah diberikannya itu, maka disini amal perbuatannya batal dan menjadi tidak ada isinya. Terkadang, dia tidak menyebut-nyebut pertolongan yang telah diberikannya, namun dia melakukan itu dengan tujuan supaya dilihat manusia. Maka dengan begitu perbuatanya menjadi ria.
e)    Ria sebagai Bagian Syirik
Salah satu cara yang dugunakan  oleh setan untuk memperdaya manusia  beriman adalah ria. Menjadikan manusia ria merupakan jalan yang sangat disukai oleh setan. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap ria jangan sampai kita termasuk orang yang bermuka dua. Dikatakan oleh Al-Qur’an ‘’maka celakalah bagi orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap slaatnya yang berbuat ria dan enggan (urung memberikan bantuan).”
f)      Hikmah Kisah Ria
Amirul ukminin Ali bin Abi Thalib sering pada malam hai pergi ke rumah-rumah oraang miskin untuk memberikan sdekah kepada mereka, dengan idak ada seorangpun yang tahu akan hal itu, kecuali setelah bepergian mereka di alam dunia. Pada malam kedua puluh bulan Ramadhan tatkala Ali sedang berbaring di ranjang sebagai akibat sabetan pedang, barulah mereka mengetahui siapa yang selama ini membawakan roti dan kurma kepada orang-orang miskin.
2)   Aniaya (Zalim)
a)   Zalim sebagai Kemungkaran
Menurut ajaran Islam, tindakan aniaya (zalim) sebagai perbuatan dosa yang harus ditinggalkan karena tindakan aniaya akan dapat merusak kehidupan pribadi, keluaga dan masyarakat.
b)   Kezaliman terhadap Allah (Syirik)
Syirik merupakan pandangan dan kepercayaan yang mengingkari bahwa Tuhan adalah Maha Esa dan Maha Kuasa. Apabila orang memandang bahwa Tuhan tidak kuasa sehingga Tuhan membutuhka pembantu-pembantu yang harus disembah dan yang akan menolong unttuk mendekat kepada-Nya, maka ini merupakan kezaliman.
c)    Kezaliman terhadap Diri Sendiri
Apabila seseorang melakukan kejahatan, dia tidaklah berbuat kejahatan terhadap Allah, melainkan dia berbuat kejahatan terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana juga kalau seorang berbuat baik, maka dia tidaklah berbuat untuk kebaikan Allah, melainkan untuk kebaikan dirinya sendiri.
d)   Kezaliman terhadap Sesama Manusia
Salah satu sifat orang zalim adalah bahwa ketika dia bergaul dengan orang lain, maka orang lain merasa tidak nyaman bersamanya. Jika dia tidak menyukai suatu hal, maka dia melakukan tindakan menurut caranya sendiri tanpa memedulikan orang lain. Orang seperti ini tidak memiliki kebaikan dalam dirinya, sehingga akan membawa kerusakan bagi kehidupan pribadi dan msyarakat dimana dia berada. Tatanan kehidupan menjadi kacau balau karena rang zalim selalu mengaburkn tatanan yang benar dan menggantikan dengan tatanan kehidupan yang memuaskan nafsunya.
3)   Diskriminasi
a)   Pengertian Diskriminasi
Secara bahasa, diskriminasi berasal dari bahsa Inggris discriminate  yang berarti membedaakan. Kosakata ini kemudian diadopsi menjadi kosakata bahasa Indonesia diskriminasi, yaitu suatu sikap yang membeda-bedakan orang lain berdasarkan suku, ras, bahasa ataupun agama.
b)   Jenis Perbuatan Diskriminasi
Sesungguhnya munculnya sikap diskriminasi dsebabkan oleh adanya penympangan individual, diantaranya :
(1)Penyimpangan karena tidak patuh pada nasehat orang tua agar merubah pendiriannya yang kurang baik disebut pembandel.
(2)Penyimpangan karena tidak taat pada peringatan orang-orang disebut pembangkang.
(3)Penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang berlaku disebut pelanggar.
(4)Penyimpangan karena mengabaikan norma-norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa dilingkungannya disebut perusuh atau penjahat.
(5)Penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong, berkhianat, dan berlagak membela diebut munafik.
c)    Dampak Negatif Diskriminasi
Akibat buruk dari sikap diskriminasi, adalah :
(1)Memicu munculnya sektarianisme
(2)Memunculkan permusuhan antar kelompok
(3)Mengundang masalah social yang baru
(4)Menciptakan penindasan dan otoritarianisme
(5)Menghambat kesejahteraan kehidupan
(6)Menghalangi tegaknya keadilan
(7)Menjadi pintu kehancuran masyarakat
(8)Mempersulit penyelesaian masalah
(9)Meningkatkan kezaliman dan kemaksiatan
d)   Cara Menghindari Diskriminasi
Untuk menghindari sikap diskriminasi, maka setiap muslim harus mengedepankan sikap persamaan. Sikap persamaan cukup urgen dalam kehidupan modern. Sikap ini memiliki tujuan untuk menciptakan rasa kesejajaran, persamaan, dan kebersamaan serta penghargaan terhadap sesame manusia sebagai makhluk Tuhan.
e)    Hikmah Menghindari Diskriminasi
Sikap selalu mengutamakan orang lain, meringankan beban orang lain, tidak menjadi beban orang lain, ramah tamah, dan menjaga kebiasaan berdasarkan ajaran yang benar.
4)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Pada sub bab meluruskan pamrih, tidak disebutkan saja karena pamrih sendiri artinya adalah ria, jadi sudah masuk dalam sub bab pengertian ria.
b)   Pada sub bab hikmah kisah ria, hanya dijelaskan kisah pada zaman sahabat, namun tidak dijelaskan hikmah dari kisah tersebut itu apa. Dan juga cara menghindari sifat ria belum ada penjelasannya.
c)    Pada sub bab zalim tidak ada point tentang cara menghindari dan hikmah menghindarinya, padahal menurut kami hal itu perlu dicantumkan agar siswa bisa lebih memahami dan waspada akan perbuatan tercela tersebut.
d)   Pada point dampak negative diskriminai, terdapat kata sektarianisme dan otoritarisme, kalimat istilah tersebutharusnya dicetak miring dan juga diberi penjelasan, sehingga siswa dapat memahami secara utuh tentang dampak negative diskriminasi. Padahal pada buku tersebut ada kamus kecil, namun dua istilah tersebut tidak dimasukkan.
3.    Penjelasan Materi Akidah Akhlak Kelas XI Semester 1
a.    BAB 1: ILMU KALAM
1)   Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu kalam diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang wajib tetap bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz disifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib ditiadakan daripada-Nya.
2)   Fungsi Ilmu Kalam
Dengan adanya ketentuan mengenai hukum akal, dan terdapatnya ayat-ayat mutasyabihat di dalam Al-Qur’an, maka hal itu merupakan peluang bagi mereka yang suka berfikir, terutama karena panggilan agama untuk memikirkan semua makhluk Tuhan.
3)   Hubungan Ilmu Kalam dengan Ilmu Lainnya
Adapun keterkaitan ilmu kalam dengan beberapa ilmu-ilmu keislaman lainnya, yaitu:
a)    Filsafat Islam
Filsafat Yunani tidak hanya diambil manfaatnya oleh kalangan mutakallimin sebagai alat untuk memperkuat dalil-dalil kepercayaan Islam dalam menghadapi lawan-lawannya. Akan tetapi, juga diambil manfaatnya dari kalangan ahli-ahli filsafat Islam, seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina.
b)    Ilmu Fikih
Objek pembahasan ilmu kalam dengan fikih sangat berbeda.
c)    Ilmu Tasawuf
Tasawuf dalam membahas masalah ibadah lebih banyak menggunakan perasaan dan latihan kejiwaan karena dengan cara ini dapat mempebanyak amal ibadah.
4)   Metode Pembahasan Ilmu Kalam
Sesungguhnya mutakallimin itu mempunyai system tersendiri di dalam membahas, menetapkan dan berdalil, berbeda dengan system Al-Qur’an dan hadits serta fatwa-fatwa sahabat. Dari segi lain, berbeda dengan system filsafat dalam membahas, menetapkan, dan berdalil.
5)   Ruang Lingkup Ilmu Kalam
Ruang lingkup pembahasan ilmu kalam yang meliputi,
a)    Wujud Tuhan
b)   Keesaan Tuhan
c)    Zat dan Sifat Tuhan
d)   Sifat-Sifat Aktif Tuhan
e)    Sifat Ilmu menurut Muktazilah
f)    Sifat Kalam
g)   Kejisiman Tuhan
h)   Arah
i)     Rukyat
j)     Keadilan Tuhan
k)   Qada dan Qadar
6)   Penerapan Ilmu Kalam
Para mutakallimin memiliki kepentingan terhadap filsafat untuk menghadapi musuh-musuhnya yang menguasai filsafat. Tuntutan ini kemudian mengharuskan mutakallimin untuk mempelajari filsafat Yunani terutama dari segi ketuhanannya.
7)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Dalam fungsi ilmu kalam penjelasannya terlalu banyak, padahal fungsinya hanya terdapat diakhir kalimat. Alangkah baiknya jika fungsi ilmu kalam diletakkan di awal kalimat kemudian diikuti kalimat-kalimat lain yang lebih mendukungnya.
b)   Dalam hubungan ilmu kalam dengan ilmu lainnya ada beberapa sebutan ilmu kalam yakni ilmu tauhid dan ilmu ushuludin yang masing-masing disebutkan tujuan dari ilmu tersebut namun pada ilmu akidah belum disebutkan tujuan dari ilmu akidah tersebut.
c)    Kemudian keterkaitan ilmu kalam dengan beberapa ilmu-ilmu keislaman lainnya, yakni fiqih, dalam penjelasannya belum ada penjelasan tentang hubungan antar a ilmu kalam dengan fiqih. Yang disebutkan hanya bahwa objek pembahasan ilmu kalam fiqih sangat berbeda. Begitu pula keterkaitan ilmu kalam dengan ilmu tasawuf belum ada penjelasan tentang hubungan keduanya. Dari penjelasan yang dipaparkan malah seolah-olah menyebutkan perbedaan diantara keduanya, bukannya hubungan antara keduan.
d)   Dalam ruang lingkup ilmu kalam, yakni pada kejisiman tuhan terdapat istilah tasybih dan tanzih yang tidak disetak miring padahal seharusnya dicetak miring.
(1)Kemudian pada point arah terdapat kalimat yang  menurut kami kurang spesifik. Yaitu “muktazilah dengan tegar mengingkari arah bagi tuhan. Karena menetapkan arah, artinya menetapkan tempat bagi-Nya dan menetapkan tempat, artinya menetapkan kejisiman-Nya. Seharusnya diganti dengan muktazilah dengan tegas mengingkari arah bagi tuhan. Karenamenetapkan arah artinya menetapkan tempat bagi-Nya adalah menetapkan kejisiman-Nya”.
(2)Dalam penerapan ilmu kalam belum ada penjelasan yang lebih spesifik lagi tentang penerapannya.
b.   BAB 2: ALIRAN ILMU KALAM
1)   Aliran-Aliran Ilmu Kalam
a)    Aliran Syiah
Syiah adalah golongan yang menyanjung dan memuji sayyidina Ali secara berlebih-lebihan karena mereka beranggapan bahwa Ali yang lebih berhak menjadi khalifah pengganti nabi.
Beberapa sekte aliran Syiah, diantaranya sebagai berikut:
(1)Sekte Kaisaniyah
Kaisaniyah adalah sekte Syiah yang memercayai Muhammad bin Hanafiyah sebagai pemimpin setelah Husein bin Ali wafat.
(2)Sekte Zaidiyah
Sekte ini memercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin sebagai pemimpin setelah Husein bin Ali wafat.
(3)Sekte Imamiyah
Sekte ini adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw, telah menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi pemimpin atau imam sebagai pengganti beliau dengan petunjukyang jelas dan tegas.
b)   Aliran Khawarij
Khawarij adalah kaum pengikut Ali bin Abi Thalib yang meninggalkan barisannya karena tidak setuju terhadap sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima Arbitrase (tahkim).
c)    Aliran Murjiah
Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya mengafirkan terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim.
d)   Aliran Qadariyah
Qadariyah sebagai suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya.
e)    Aliran Jabariyah
Manusia dalam paham Jabariyah sangat lemah, tak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, tidak mempunyai kehendak bebas.
f)    Aliran Muktazilah
Aliran ini muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan aliran Murjiah mengenai persoalan orang mukmin yang berdosa besar.
g)   Aliran Asy’ariyah
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap paham Muktazilah yang dianggap menyeleweng dan menyesatkanumat Islam.
h)   Aliran Maturidiyah
Maturidiyah mendasarkan pikirannya dalam soal-soal kepercayaan kepada pikiran-pikiran Imam Abu Hanifah yang tercantum dalam kitabnya Al-Fiqh al-Akbar dan Al-Fiqh al-absat.
i)     Teologi Transformatif
Teologi Transformatif merupakan sejumlah pandangan  keyakinan keagamaan, yang mempengaruhi perilaku kehidupan umat Islam dalam keseluruhan aspek kehidupan.
j)     Teologi Pembebasan
   Teologi pembebasan sebagai bentuk ajaran untuk peduli kepada orang-orang yang tertindas, seperti orang-orang yang teraniaya, miskin, yatim, janda, perempuan, dan budak.
2)   Perilaku Orang Beraliran Kalam
Lima kriteria pokok yang melekat pada orang yang mengikuti aliran yang benar (sahih), yaitu sebagai berikut:
a)    Memilki prinsip hidup yang kuat, yang digali berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah.
b)   Mampu mengembangkan pemikiran yang rasional dalam melihat berbagai persoalan kehidupan.
c)    Konsisten dalam menjaga persaudaraan dengan sesama umat muslim.
d)   Senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
e)    Kehadirannya tidak membuat orang lain merasa takut atau cemas.   
3)   Menghargai Perbedaan Paham
        Berbagai ragam pemikiran dan pandangan dari aliran-aliran yang ada memperlihatkan paham yang saling bertentangan, sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Al-Qur’an.
4)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Dalam aliran syiah terdapat isltilah “tahkim” atau “arbitrasi”, tapi belum dijelaskan apa maksudnya. Dalam kamus kecilpun tidak ada keterangan tentang tahkim atau arbitrasi. Alangkah baiknya jika kata tersebut diberi arti agar bisa dipahami. Kemudian kata “sekte” juga belum dijelaskan maknanya dalam kamus kecil.
b)   Dalam aliran khawarij, alangkah baiknya jika dalil surat Al-Maidah ayat 44 dituliskan ayatnya agar tidak hanya maknanya saja.
c.    BAB 3: PERILAKU TERPUJI
1)   Akhlak Berpakaian
a)   Pengertian Akhlak Berpakaian
Secara istilah, pakaian adalah segala sesuatu yang dikenakan seseorang dalam berbagai ukuran dan modenya berupa baju, celana, sarung, jubah ataupun yang lain yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya untuk suatu tujuan yang bersifat khusus ataupun umum.
b)   Bentuk Akhlak Berpakaian
Busana muslimah haruslah memenuhi kriteria, antara lain tidak jarang (tembus pandang) dan ketat, tidak menyerupai pakaian laki-laki, tidak menyerupai busana khusus nonmuslim, serta pantas dan sederhana.
c)    Nilai Positif Akhlak Berpakaian
Agama Islam mengajarakan kepada pemeluknya agar berpakaian yang baik dan bagus sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dalam pengertian bahwa pakaian tersebut dapat memenuhi hajat tujuan berpakaian, yaitu menutupi aurat dan keindahan.
d)   Membiasakan Akhlak Berpakaian
Islam telah menggariskan aturan-aturan berbusana yang harus ditaati, yakni dalam apa yang disebut etika berbusana. Seorang muslim atau muslimah dituntut untuk berbusana sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam aturan.
2)   Akhlak Berhias
a)   Pengertian Akhlak Berhias
Secara istilah, berhias dapat dimaknai sebagai upaya setiap orang untuk memperindah diri dengan berbagai busana, asesoris ataupun zat-zat (make up) yang dapat memperelok diri bagi pemakainya sehingga memunculkan kesan indah bagi yang menyaksikan serta menambah rasa percaya diri penampilan untuk suatu tujuan tertentu.
b)   Bentuk Akhlak Berhias
Agama Islam telah memberikan rambu-rambu yang tegas agar setiap muslim meengindahkan kaidah berhias meliputi sebagai berikut:
(1)Niat berhias hanya untuk beribadah
(2)Dalam berhias tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan (misalnya ada unsur khamar ataupun babi)
(3)Setiap muslim dilarang berhias dengan memakai simbol-simbol ataupun alat-alat yang secara khusus digunakan kaum nonmuslim (misalnya salib)
(4)Tidak berlebih-lebihan dalam berhias
(5)Tidak berhias seperti orang jahiliyah atau nonmuslim
(6)Berhias menurut kelaziman dan kepatutan jenis kelamin
(7)Menghindari berhias untuk keperluan berfoya-foya ataupun ria.
c)    Nilai Positif Akhlak Berhias
Seorang muslim ataupun nonmuslim yang berhias (berdandan) sesuai ketentuan Islam, maka sesungguhnya telah menegaskan jati dirinya sebagai mukmin ataupun muslim. Seorang yang berhias secara Islami akan merasa nyaman dan percaya diri dengan dandanannya yang telah mendapatkan jaminan halal secara hukum sehingga apa yang sudah dilakukan akan menjadi motivasi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesamanya.
d)   Membiasakan Akhlak Berhias
Islam mengajak manusia untuk hidup secara wajar, berpakaian secara wajar, berhias secara lazim, jangan kurang dan jangan berlebihan. Karena itu, setiap pribadi muslim harus membiasakan diri untuk berpenampilan yang baik, bagus, indah, dan meyakinkan, tidak menyombongkan diri, tidak angkuh, tetapi tetap sederhana dan penuh kebersahajaan sebagai wujud konsistensi terhadap ajaran Islam.
3)   Akhlak Perjalanan
a)   Pengertian Akhlak Perjalanan
Secara istilah, perjalanan sebagai aktivitas seseorang untuk keluar ataupun meninggalkan rumah dengan jalan kaki ataupun menggunakan berbagai sarana transportasi yang mengantarkan sampai pada tempat tujuan dengan maksud ataupun tujuan tertentu.
b)   Bentuk Akhlak Perjalanan
Sebagai pedoman, Islam mengajarkan adab dalam melakukan perjalanan, yaitu sebagai berikut:
(1)          Bermusyawarah dan Salat Istikharah
(2)          Mengembalikan Hak dan Amanat kepada Pemiliknya
(3)          Membawa Enam Benda yang Disunnahkan Rasulullah saw.
(4)          Mengajak Istri ataupun Anggota Keluarganya
(5)          Wanita Tidak Boleh Pergi Seorang Diri
(6)          Memilih Kawan Pendamping yang Saleh
(7)          Mengangkat Pemimpin Rombongan
(8)          Berpamitan pada Keluarga dan Handai Tolan serta Mohon Doa
(9)          Memilih hari Kamis dan Salat Dua Rakaat sebelum Berangkat
(10)      Menolong  Kawan Seperjalanan
(11)      Tidak Lama Meninggalkan Istri
(12)      Takbir Tiga Kali dan Berdoa
(13)      Jangan Pulang Mendadak
(14)      Salat Dua Rakaat
c)    Nilai Positif Akhlak Perjalanan
Dalam kaitannya dengan perjalanan (safar), Imam Gazali berpendapat bahwa bersafarlah, sesungguhnya dalam safar ada lima keuntungan, yaitu:
(1)Menghibur diri dari kesedihan;
(2)Mencari hasil usaha (mata pencaharian);
(3)Memperoleh tambahan ilmu;
(4)Lebih banyak mengenal adab kesopanan;
(5)Menambah kawan yang baik (mulia).
d)   Membiasakan Akhlak Perjalanan
Biasakan melakukan perjalanan dengan perhitungan jadwal yang matang, akurat, rinci, dan jelas agendanya. Perjalanan yang disertai dengan agenda yang jelas, maka semua aktivitas yang dilakukan selama perjalanan akan dapat terlaksana dengan baik.
4)   Akhlak Bertamu
a)   Pengertian Akhlak Bertamu
Secara istilah, bertamu merupakan kegiatan mengunjungi rumah sahabat, kerabat ataupun orang lain dengan tujuan untuk menjalin persaudaraan ataupun untuk suatu keperluan lain dalam rangka menciptakan kebersamaan dan kemaslahatan bersama.
b)   Bentuk Akhlak Bertamu
Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah orang yang bertamu terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah.
Disamping itu, hal lain yang perli diperhatikan oleh setiap orang yang bertamu sebagai berikut:
(1)Jangan bertamu sembarang waktu;
(2)Kalau diterima bertamu, jangan terlalu lama sehingga merepotkan tuan rumah;
(3)Jangan melakukan kegiatan yang menyebabkan tuan rumah terganggu;
(4)Kalau disuguhi minuman atau makanan hormatilah jamuan itu;
(5)Hendaklah pamit pada waktu mau pulang.
c)                                Nilai Positif Akhlak Bertamu
Bertamu secara baik dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap orang lain dan menjauhkan sikap paksaan, tekanan, dan intimidasi.
Dengan bertamu, seorang akan melakukan diskusi yang baik, sikap yang sportif, dan elegan terhadap sesamanya.
Bertamu sebagai media berdakwah, meningkatkan kualitas diri setiap muslim.
d)   Membiasakan Akhlak Bertamu
Sesungguhnya bertamu itu sebagai kegiatan yang cukup mengasyikkan. Dengan bertamu, seorang dapat menemukan berbagai manfaat, baik berupa wawasan, pengalaman berharga ataupun dapat menikmati segala bentuk penyambutan tuan rumah. Bertamu sebagai kebiasaan yang harus dilestarikan untuk menciptakan persaudaraan dan kerukunan hidup umat manusia.
5)   Akhlak Menerima Tamu
a)   Pengertian Akhlak Menerima Tamu
Secara istilah, menerima tamu dimaknai menyambut tamu dengan berbagai cara penyambutan yang lazim (wajar) dilakukan menurut adat ataupun agama dengan maksud untuk menyenangkan atau memuliakan tamu, atas dasar keyakinan untuk mendapatkan rahmat dan rida dari Allah. 
b)   Bentuk Akhlak Menerima Tamu
Memuliakan tamu dilakukan antara lain dengan menyambut kedatangannya dengan muka manis dan tutur kata yang lemah lembut, mempersilakannya duduk di tempat yang baik. Kalau perlu, disediakan ruangan khusus untuk menerima tamu yang selalu dijaga kerapian dan keasriannya.
c)    Nilai Positif Akhlak Menerima Tamu
Menerima tamu dapat meningkatkan kesabaran. Menerima tamu dapat mengembangkan kepribadian. Memuliakan tamu juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan kemaslahatan dari Allah ataupun makhluk-Nya karena sesungguhnya orang yang berbuat baik akan mendapatkan kemaslahatan dunia maupun akhirat.
d)   Membiasakan Akhlak Menerima Tamu
Seyogyanya setiap muslim harus menunjukkan sikap yang baik terhadap tamunya, mulai dari keramahan diri dalam menyambut tamu, menyediakan sarana dan prasarana penyambutan yang memadai, serta mmeberikan jamuan makanan dan minuman yang memenuhi selera tamu. Syukur sekali dapat menyediakan hidangan lezat yang menjadi kesukaan tamu yang datang. Jika hal tersebut dapat dilakukan secara baik, maka akan menjadi tolok ukur kemuliaan tuan  rumah.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Dalam pengertian ahlak berpakaian, hanya diuraikan tentang pakaian dari segi bahasa dan istilah serta tujuan berpakaian yang bersifat khusu dan umum. Seharusnya dicantumkan juga mengenai pengertian ahlak berpakaian.
b)   Dalam bentuk ahlak berpakaian, penjelasannya sudah baik, namun alangkah baikna lagi jika penulisan dalil Al-Qur’annya diikutsertakan jadi tidak hanya artinya saja.
c)    Dalm nilai positif ahlak berpakaian, belum dijelaskan secara jelas tentang nilai-nilai positifnya sehingga membingungkan siswa dalam memahami.
d)   Dalam membiasakan akhlak berpakaian alangkah baiknya jika penjelasan yang ada dalam dinilai positif akhlak berpakaian yakni “perintah berpakaian yang baik dan bagus terutama apabila akan melakukan ibadah shalat” diletakkan dalam penjelasan membiasakan ahlak berpakaian agar siswa bisa meneladani penjelasan yang ada didalamnya.
e)    Dalam pengertian akhlak berhias, belum ada pengertian tentang akhlak berhias. Dalam bentuk akhlak berhias penjelasannya sudah baik apalagi dilengkapi dengan dalil yang memperkuat penjelasan.
f)    Dalam nilai positif ahlak berhias dan menerima tamu alangkah lebih baik jika dibuat dalam point-point sehingga akan lebih mudah dipelajari.
g)   Dalam membiasakan ahlak berhias terdapat paragraph yang meniru penjelasan dari nilai posiitf ahlak berpakaian. Hanya bedanya dari kata “berpakaian” menjadi “berhias”. Alangkah baiknya jika dibuat penejlasan lainnya agar penjelasannya lebih baik lagi.
h)   Dalam pengertian akhlak perjalanan, akhlak  bertamu dan akhlak menerima tamu belum ada pengertian tentang akhlak perjalanan akhlak  bertamu dan akhlak menerima tamu.
i)     Dalam bentuk ahlak perjalanan, alangkah baiknya jika haditsnya dituliskan bukan hanya maknanya saja.
j)     Dalam nilai positif ahlak perjalanan terdapat kata “keuntungan melakukan perjalanan”, sebaiknya diganti dengan “nilai positif melakukan perjalanan” agar sesuai dengan sub tema yang ada.
k)   Dalam membiasakan ahlak bertamu sebaiknya dalilnya ditulis.
l)     Dalam nilai positif ahlak menerima tamu alangkah baiknya jika dijadikan point-point saja agar lebih mudah dipahami.
d.   BAB 4: PERILAKU TERCELA
1)   Mabuk-mabukan
a)   Pengertian Mabuk-mabukan
Secara istilah, mabuk-mabukan dapat diartikan sebagai aktivitas meminum, memakan, menghirup, ataupun menghisap secara berlebihan bahan-bahan (material) yang dalam jumlah tertentu dapat membuat pelakunya mabuk.
b)   Bentuk Mabuk-mabukan
Pemberian nama pada bermacam-macam minuman keras, dapat dibagi menjadi beberapa golongan sesuai dengan bahan baku yang digunakan, di antaranya sebagai berikut:
(1)Jika bahan dasarnya terbuat dari sari buah, seperti anggur, nanas, dan apel disebut wine.
(2) Jika bahan dasarnya terbuat dari pati disebut bir. Jenis bir lainnya adalah sake yang dibuat dari beras kuning.
(3)Nama-nama lain, seperti rum, wisky, cognac, dari Perancis; gin dari Irlandia, vodka dari Rusia merupakan minuman keras yang diperoleh dengan proses fermentasi.
(4)Secara tradisional, orang telah mengetahui bahwa nira aren atau nira kelapa dapat dijadikan minuman keras, dengan cara membiarkan (inkubasi) selama satu hari atau lebih.
c)    Akibat Negatif Mabuk-mabukan
Sudah diketahui umum bahwa semua miras itu jika diminum dalam jumlah yang cukup banyak bisa membuat orang mabuk, bahkan jika diminum banyak sekali, bisa pingsan atau setidak-tidaknya tidak ingat akan lingkungannya, sedangkan untuk jangka panjangnya akan mengakibatkan kerusakan organ fisik bagian dalam (jantung, paru-paru, ginjal, dan liver), termasuk saraf yang akan berakibat mengganggu jalannya kehidupan manusia secara menyeluruh. 
d)   Upaya Menghindari Mabuk-mabukan
Setiap muslim memilki kewajiban untuk menjaga masyarakat agar terhindar dari kejahatan seseorang yang diakibatkan pengaruh mabuk-mabukan.
2)   Berjudi
a)   Pengertian Berjudi
Berjudi adalah suatu aktivitas yang direncanakan ataupun tidak dengan melakukan spekulasi ataupun rekayasa untuk mendapatkan kesenangan dengan menggunakan taruhan yang tidak dibenarkan, bagi yang menang diuntungkan dan yang kalah dirugikan.
b)   Bentuk-Bentuk Berjudi
Berikut ini adalah model perjudian yang berkembang sampai saat ini:
(1)     Dadu
(2)     Kartu Remi
(3)     Lotre
(4)     Semua Permainan yang melupakan Allah
(5)     Menjual Benda yang Belum Jelas
(6)     Menyabung Binatang
(7)     Permainan yang Merusak Badan
c)    Akibat Negatif Berjudi
Betapa besar bahaya perjudian bagi kehidupan pribadi dan sosial karena perjudian membawa akibat buruk bagi pelakunya, diantaranya masuk dalam lingkaran setan yang akan merugikan diri dan orang lain, merugikan ekonomi karena ketidakpastian usaha yang dilakukan, menimbulkan kemarahan dan permusuhan dengan sesama, menghalangi zikir dan beribadah kepada Allah, menyebabkan orang lalai kewajiban terhadap diri, orang lain dan penciptanya, menjadikan orang malas bekerja, menjadi sebab untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama atau pemerintah, menghancurkan kehidupan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya, menghilangkan perasaan malu dan ksih sayang, menimbulkan kesedihan dan penyesalan sebab perbuatan judi dapat menghilangkan harta dan harga diri seseorang dalam waktu yang relatif singkat.
d)   Upaya Menghindari Berjudi
Diperlukan upaya-upaya yang integral dari berbagai pihak, diantaranya adalah ulama hendaknya senantiasa beramar makruf nahi mungkar dalam setiap waktu dan keadaan, umara hendaknya dengan tegas dan jelas segera memberantas tempat-tempat perjudian dan mengambil tindakan hukum yang tegas bagi pelaku perjudian, setiap orang berusaha menghindari pergaulan dengan penjudi, lebih banyak bergaul dengan orang yang jelas-jelas baik, setiap pelaku perjudian harus sabar dengan segera bertobat dan memperbaiki diri dengan amal saleh, berusaha mencari rizki yang halal dan qanaah akan perintah Allah, senantiasa beristighfar dan mohon ampunan serta perlindungan dari Allah agar tidak terjerumus pada perjudian, senantiasa berjuang untuk menuaikan kewajiban secara istiqamah, baik terhadap keluarga, lingkungan maupun kepada pencipta.
3)   Zina
a)   Pengertian Berzina
Zina adalah melakukan hubungan seksual antara laki-laki dengan perempuan yang bukan suami istri dan bukan pula budaknya.
b)   Bentuk-bentuk Berzina
Perbuatan zina bias dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
(1)Zina Mukhsan, yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang balig, berakal, merdeka, sudah pernah nikah secara sah.
(2)Zina Ghairu Mukhsan, zina yang dilakukan oleh orang yang belum pernah nikah.
c)    Akibat Negatif Berzina
Akibat negative yang paling fatal bagi semua orang yang berzina adalah akan terjangkit penyakit acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Penyakit kelamin yang menyengsarakan fisik, mental, dan sosial. Secara fisik biologis, seseorang yang terinfeksi virus HIV (human immune virus) akan kehilangan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit secara perlahan.
d)   Upaya Menghindari Berzina
Setiap muslim berkewajiban untuk menjaga dari jatuhnya harga diri dan rusaknya kehormatan keluarga. Apabila seorang telah terbukti melakukan perbuatan zina, maka hancurlah martabatnya di hadapan khalayak. Karena itu, dengan penuh kesadaran setiap muslim harus dapat membentengi diri dari semua perbuatan yang mengarah pada perzinaan.
4)   Mencuri
a)   Pengertian Mencuri
Mencuri adalah mengambil milik orang lain untuk dijadikan milik sendiri dengan cara yang tidak sah, baik menurut hukum adat maupun hukum agama.
b)   Bentuk-Bentuk Mencuri
Adapun bentuk-bentuk perbuatan mencuri meliputi berikut ini:
(1)Mencuri atau mencopet.
(2)Menyamun, merampok, atau membajak.
c)    Akibat Negatif Mencuri
Adapun akibat negative perbuatan mencuri, sebagai berikut:
(1)Menentang hukum Allah,
(2)Mengabaikan norma masyarakat,
(3)Menyengsarakan kehidupan pribadi dan keluarga,
(4)Meresahkan kehidupan masyarakat, dan
(5) Menjadi penyebab terbukanya pintu kejahatan.
d)   Upaya Menghindari Mencuri
Islam menanggulangi kasus pencurian dengan cara mendidik dan membersihkan jiwa manusia dengan akhlak yang luhur agar jangan memilki hak orang lain. Disamping itu, Islam mengajak kaum muslimin agar giat bekerja mencari penghidupan, membenci pengangguran, dan mencela sifat kikir.
5)   Konsumsi Narkoba
a)   Pengertian Konsumsi Narkoba
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Konsumsi narkoba dalam Bahasa Arab disebut dengan kata mukhaddirun, mukhaddiratun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsumsi narkoba diartikan obat untuk menenangkan saraf, menghilangkan rasa sakit, menimbulkan mengantuk atau merangsang.
b)   Bentuk-Bentuk Konsumsi Narkoba
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika telah dikemukakan berbagai jenis narkotika, yaitu sebagai berikut:
(1)Tanaman Papaver somniferum L, termasuk biji, buah, dan jeraminya.
(2)Opium mentah, yaitu getah yang membeku dari buah papaver.
(3)Opium masak, baik berupa candu untuk pemadatan maupun jicing, yakni sisa-sisa candu yang telah dihisap atau jicingko, yaitu hasil olahan jicing.
(4)Opium obat, yaitu hasil olahan opium mentah untuk pengobatan.
(5)Morfina, yaitu alkoida utama dari opium dan heroin (hasil olahan dari morfin dengan campuran acetic anhydride)
(6)Tanaman koka dan daunnya.
(7)Kokain mentah, hasil perolehan dari daun koka yang dapat diolah untuk mendapatkan kokain.
(8)Semua bagian dari tanaman ganja
(9)Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokain.
(10)            Bahan lain, baik alamiyah, sintesis, maupun semi sintesis yang belum disebutkan yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokain.
c)    Akibat Negatif Konsumsi Narkoba
Bahaya Narkotika terhadap pemakainya, antara lain:
(1)Merusak jasmani, akal, dan mental, lebih berta daripada yang diderita oleh peminum khamar.
(2)Reflex yang bermanfaat untuk menjaga tubuhnya akan menurun sehingga tidak dapat memberikan reaksi yang cepat.
(3)Iman dan keyakinan agamanya secara berangsur-angsur akan lenyap dari dirinya sehingga tidak malu lagi melakukan perbuatan tercela yang melanggar norma-norma agama dan susila.
(4)Semangat belajar dan bekerja akan menurun sehingga akan mengalami kegagalan dan ketidakberhasilan.
(5)Bagi pemakai narkotika yang sudah mengalami ketergantungan, pada badannya akan timbul gejala-gejala abstinensi, yakni akan menderita kegelisahan yang sangat, badannya akan terasa sakit semua, banyak keluar keringat, muntah-muntah, kejang pada otot dan terjadi penurunan berat badan secara drastic.    
d)   Upaya Menghindari Konsumsi Narkoba
Upaya yang harus dilakukan setiap muslim agar dapat menghindari narkoba, diantaranya:
(1)Mengenal dan memahami secara mendetail macam dan bentuk narkoba serta manfaat ataupun madaratnya yang dapat merusak kehidupan manusia.
(2)Menggali lebih dalam ketentuan hukum agama ataupun Negara berkaitan dengan penggunaan narkoba dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia.
(3)Berusaha menjauhi pergaulan dengan orang yang mengkonsumsi narkoba karena pergaulan orang muslim sangat besar pengaruhnya dalam bentuk perilaku.
(4)Berusaha mencari alternative solusi yang dibolehkan oleh hukum agama ataupun hukum Negara terhadap berbagai masalah yang dihadapi pada semua aspek kehidupan.
(5)Meningkatkan kesadaran untuk menjalankan ketaatan beragama secara tulus ikhlas ataupun senantiasa melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi ataupun sosial.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Dalam bentuk mabuk-mabukan, alangkah baiknya jika dalil surat Al-Maidah/5: 90-91 yang terdapat pada tazkirah dituliskan dalam bentuk  mabuk-mabukan.
b)   Dalam akibat negative mabuk-mabukan penjelasannya sudah bagus karena menjelaskan tentang penggunaan etanol baru setelah itu menjelaskan akibat negatifnya.
c)    Dalam upaya menghindari mabuk-mabukan belum ada penjelasan yang menyangkut tentang upaya menghindari mabuk-mabukan.
d)   Dalam berjudi tidak ada dalil yang menguatkan penjelasannya. Alangkah baiknya jika disebutkan juga dalilnya dalam point bentuk berjudi.
e)    Dalam akibat negative berjudi dan upaya menghindari sudah baik sekali penjelasannya.
f)    Dalam akibat negative zina sebaiknya dalil haditsnya dituliskan. Adapun penjelasannya sudah sangat baik.
g)   Dalam upaya menghindari berzina penjelasannya kami rasa kurang, yang ada malah penjelasan tentang hikmah menghindari berzina.
h)   Dalam sub bab mencuri, penjelasannya sudah sangat baik, mulai dari pengertian, bentuk-bentuk, akibat negative, maupun upaya menghindari mencuri semua penjelasannya kami rasa sudah baik. Apalagi dalam upaya menghindari mencuri disebutkan pula hikmah menghindari perbuatan mencuri.
i)     Dalam bentuk-bentuk konsumsi narkoba terdapat kalimat yang rancu pada paragraph ke-3 kalimat terakhir. Yakni “produk suplemen makanan ataupun minuman yang mudah didapatkan baik”. Dalam sub bab ini juga tidak disebutkandalil yang mengutakanbahawa konsumsi narkoba itu diharamkan.
j)     Dalam akibat negative konsumsi narkoba terdapat kata “bahaya narkotika terhadap pemakainya”, alangkah baiknya jika diganti dengan “akibat negative konsumsi narkoba terhadap pemakainya. Agar sesuai dengan tema sub-babnya.
k)   Dalam upaya menghindari konsumsi narkoba penjelasannya sudah baik.
4.    Penjelasan Materi Akidah Akhlak Kelas XI Semester 2
a.    BAB 5: TASAWUF
1)   Pengertian Tasawuf
Tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana.
2)   Sumber Ajaran Tasawuf
Tasawuf bersumber pada ajaran Islam karena dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat.
3)   Maqamat dalam Tasawuf
Maqamat dalam tasawuf adalah zuhud, taubah, wara’, kefakiran,, sabar, tawakal, dan rida.
4)   Hubungan Akhlak dengan Tasawuf
Para ahli ilmu tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian, tasawuf falsafi, tasawuf akhlaqi, dan tasawuf ‘amali. Ketiga macam tasawuf itu tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji.
5)   Perilaku Tasawuf
a)    Mahabbah
Menurut Rabi’ah al-Adawiyah, dorongan mahabbah kepada Allah berasal dari diri seseorang sendiri dan juga karena hak Allah untuk dipuja dan dicintai.
b)   Makrifat
Tokoh utama paham makrifat adalah Zunnun al-Misri. Menurut Zunnun, untuk menjelaskan paham makrifat perlu diketahui pengetahuan tentang Tuhan. Ada tiga macam pengetahuan untuk mengetahui Tuhan, yaitu:
(1)Dengan perantara syahadat;
(2)Dengan logika (akal pikiran yang sehat);
(3)Dengan perantara hati sanubari.
6)   Fungsi Tasawuf dalam Kehidupan Modern
Kehadiran tasawuf dapat melatih manusia agar memilih ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Hal ini menyebabkan seseorang akan selalu mengutamakan pertimbangan pada setiap masalah yang dihadapi. Dengan demikian, ia akan terhindar dari perbuatan tercela menurut agama.
7)   Peranan Tasawuf dalam Kehidupan Modern
Tasawuf merupakan fenomena individual yang telah membuka cakrawala baru dalam dunia modern. Hal ini bisa menjadi obat alternative seiring dengan adanya krisis spiritual yang melanda masyarakat dunia saat ini.
8)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a.    Judul sub bab tentang pengertian tasawuf alangkah baiknya diganti hakikat tasawuf. Karena dari penjelasannya kesimpulan akhirnya menyebutkan tentang esensi atau hakikat tasawuf.
b.    Pada point maqamatdalam tasawuf.yakni tawakal, penjelasannya terlalu sedikit, sebaiknya ditambahi lagi penjelasannya.
c.    Pada point perilaku tasawuf yaitu mahabbah terdapat kata “bentuk-bentuk perilaku tasawuf dapat dilakukan melalui berbagai macam perbuatan, diantaranya dalam bentuk mahabbah dan makrifat”. Seharusnya diletakkan setelah point perilaku tasawuf, baru setelah itu point tentang mahabbah.
-       Pada sub tema mahabbah tidak ada tingkatan-tingkatan mahabbah. Seperti pada sub point makrifat yang mencantumkan tingkatan-tingkatannya.
d.   Pada sub bab fungsi tasawuf dan peranan tasawuf dalam kehidupan modern memiliki penjelasan yang hampir sama. Menurut kami sebaiknya kedua sub bab tersebut dijadikan satu.
b.   BAB 6: PERILAKU TERPUJI
1)   Adil
a)    Pengertian Adil
Pengertian adil menurut ilmu akhlak ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya, memberikan atau menerima sesuatu sesuai haknya, dan menghukum yang jahat sesuai kesalahan dan pelanggarannya.
b)   Karakteristik Sikap Adil
Disamping keadilan hukum, Islam memerintahkan kepada umat manusia, terutama orang-orang yang beriman untuk bersikap adil dalam segala aspek kehidupan baik, terhadap diri, keluarga, ataupun orang lain. Bahkan, kepada musuh pun kita harus berbuat adil.
c)    Nilai Positif Sikap Adil
Jika seseorang mampu mewujudkan keadilan dalam dirinya sendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperolaeh kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh kesejahteraan hidup duniawi serta ukhrawi. Jika keadilan dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, akan terwujud masyarakat yang aman, tentram, serta damai sejahtera lahir dan batin.
d)                           Membiasakan Sikap Adil
Seseorang hendaknya membiasakan diri berlaku adil, baik terhadap dirinya, kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, anak-anaknya, teman-temannya, tetangganya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya, maupun terhadap sang Khalik (Allah swt.)
2)   Rida
a)    Pengertian Rida
Rida adalah ketetapan hati untuk menerima segala keputusan yang telah ditetapkan.
b)   Karakteristik Sikap Rida
Apabila dirinut dalam berbagai pendapat ahli hikmah, rida dikelompokkan menjadi tiga tingkatan, yaitu rida kepada Allah, rida pada apa yang datang dari Allah, dan rida pada qada Allah.
c)    Nilai Positif Sikap Rida
Rida merupakan bentuk kesadaran diri, perasaan jiwa, dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang berkenan sepenuh hati untuk menerima apa yang didapat ataupun yang dihadapi dengan sepenuh hati untuk menerima apa yang didapat ataupun yang dihadapi dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
d)   Membiasakan Sikap Rida
Rida kepada Allah itu bersumber dari iman (Q.S. al-Baqarah/2:165). Makin tebal iman seseorang, makin ridanya kepada Allah. Bahkan, apabila disebutkan nama Allah, hatinya akan bergetar. (Q.S. al-Anfal/8:2)
3)   Amal Saleh
a)    Pengertian Amal Saleh
Amal saleh berarti perbuatan sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah ataupun menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia.
b)   Karakteristik Amal Saleh
Secara umum, pengelompokkan amal itu terbagi dua, yaitu amal saleh (amal yang baik) dan ‘amalus sayyi’ah (amal yang buruk).
c)    Nilai Positif Amal Saleh
Amal saleh (kebaikan) laksana pohon kayu yang menghasilkan buah yang enak dan lezat rasanya, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.
d)   Membiasakan Amal Saleh
Mengerjakan amal saleh dalam arti kata yang seluas-luasnya adalah kewajiban bagi setiap manusia, baik sebagai pribadi maupun selaku umat, kaum, dan bangsa. Sesungguhnya, kedudukan seseorang, suatu kaum, atau bangsa sangat ditentukan oleh amal perbuatannya.
4)   Persatuan
a)    Pengertian Persatuan
Persatuan diartikan sebagai bentuk kecendurungan asasi manusia yang diaktualisasikan dalam bentuk kegiatan; melakukan pengelompokkan dengan sesame manusia menurut pertimbangan atau ikatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
b)   Karakteristik Persatuan
Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjaga persatuan dengan sesame muslim. Persatuan akan membawa kemaslahatan bersama. Dalam menjaga persatuan, ada beberapa prinsip Al-Qur’an yang harus ditegakkan, antara lain:
(1) Persatuan dalam ikatan tali Allah (Q.S. Ali Imron/3:103);
(2) Mengakui persamaan harkat dan martabat sesame (Q.S.al-Hujurat/49:13);
(3)Senasib, saling membela dan melindungi (Q.S. at-Taubat/9:71);
(4)Umat yang harmonis, umat pertengahan (Q.S. al-Baqarah/2:143).
c)    Nilai Positif Sikap Persatuan
Hikmah persatuan adalah dapat menciptakan kehidupan yang rukun dengan menegakkan nilai-nilai keadilan, perdamaian, kemaslahatan, serta terbinanya pola hubungan antarsesama manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kasih saying sesame makhluk ciptaan Allah.
d)   Membiasakan Sikap Persatuan
Agama Islam mementingkan persatuan dalam ikatan tali Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah al-Mu’minun/23:52. Menurut hadis Nabi SAW., orang mukmin satu dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan, bagian-bagiannya saling mengukuhkan satu sama lain.
5)   Kerukunan
a)    Pengertian Kerukunan
Kerukunan adalah satu tata pikir atau sikap hidup (thalent attitude) yang menunjukkan kesabaran dan kelapangan dada menghadapi pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, dan pendirian orang.
b)   Karakteristik Kerukunan
Kerukunan adalah salah satu tata pikir yang diajarkan oleh Islam, terutama kerukunan mengenai beragama. Salah satu ajaran Islam yang digariskan Allah untuk menjadi pegangan kaum muslimindalam kehidupan beragama adalah Surah al-Baqarah Ayat 256.
c)    Nilai Positif Sikap Kerukunan
Sikap rukun mengandung manfaat yang amat besar bagi setiap orang yang melakukan, antara lain:
(1)Memperkukuh persatuan dan kesatuan yang menjadi syarat mutlak untuk mencapai cita-cita yang tinggi dan mulia;
(2)Memudahkan seseorang untuk mengais rizeki;
(3)Menimbulkan ketentraman dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat;
(4)Menjadi pilar utama untuk memberdayakan potensi dan membangun masyarakat ke arah yang lebih maju dan berperadaban;
(5)Menjadi tolak ukur solidaritas kemanusiaan yang akan mengantarkan kesejahteraan kehidupan dalam bermasyarakat;
(6)Memiliki dampak bagi terciptanya masyarakat yang beradab dan sebagai sarana mendapatkan rahmat Allah. 
d)   Membiasakan Sikap Kerukunan
Untuk mampu menghayati betapa pentingnya memelihara kerukunan, kita harus merenungkan betapa besar kerusakan yang diakibatkan desas-desus atau kabar angin yang jahat terhadap pergaulan sesama manusia.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Dalam point tentang karakteristik sikap adil terdapat beberapa contoh sikap adil dalam Al-Qur’an alangkah baiknya jika dalilnya diikutsertakan dalam penulisan jadi tidak hanya artinya saja agar para siswa lebih mudah dalam mempelajarinya.
b)   Dalam point tentang nilai positif sikap adil alangkah baiknya jika dibuat menjadi point-point agar memudahkan siswa dalam memahami.
c)    Dalam nilai positif sikap ridha menurut hasil telaah kami belum ada penjelasan yang lebih spesifik tentang nilai-nilai tersebut. Alangkah baiknya jika ditambahkan point-point yang memuat tentang nilai-nilai positif sikap ridha agar siswa mudah memahaminya.
d)   Dalam point tentang karakteristik sikap persatuan belum ada dalil yang dicantumkan dalam pembahasan. Sebaiknya dalam penjelasan beberapa prinsip Al-Qur’an harus ditegakkan dalam persatuan dalil dan artinya disebutkan agar melengkapi penjelasan kemudian ada hadits yang hanya disebutkan artinya, alangkah baiknya dituliskan juga haditsnya agar lebih lengkap.
e)    Dalam point tentang nilai positif sikap persatua terdapat kata ”hikmah persatuan” seharusnya menurut kami diganti dengan “nilai posiitf sikap persatuan” untuk menyesuaikan dengan sub temanya.
f)    Dalam membiasakan kerukunan belum ada dalilnya.
c.    BAB 7: AKHLAK DALAM PERGAULAN REMAJA
1)   Pengertian Masa Remaja
Masa remaja sebagai masa pencarian identitas diri.
2)   Perkembangan Emosi Masa Remaja
Beberapa keadaan emosi pada usia remaja yang paling menonjol dapat dikemukakan sebagai berikut:
a)    Gangguan jiwa berat sering kali muncul pertama kali pada usia remaja.
b)   Gangguan kepribadian
c)    Menantang atau melawan tatanan dari sistem kehidupan yang menurutnya tidak sesuai.
d)   Mencari perhatian dengan menonjolkan kelebihan yang dimilikinya sehingga keberadaannya ingin diakui.
e)    Butuh akan cinta dengan mulai merasakan adanya kecenderungan pada lawan jenis.
f)    Terikat dengan kelompok sehingga sering terjadi konflik antara anak dan orangtuanya.
g)   Ingin tahu dan mencba sesuatu yang baru.
h)   Mencari figure idola di luar rumah yang dirasa paling baik bagi dirinya. 
3)   Nilai Negatif Pergaulan Remaja
Setiap remaja harus mewaspadai perilaku suka keluyuran, menghabiskan waktu tanpa agenda dan tujuan yang jelas; ermalas-malasan dan suka menunda atau meringankan pekerjaan; ragu-ragu dan cenderung bimbang menjalani kehidupan; sering mengecilkan kemampuan dan potensi diri; mementingkan bermain ataupun santai daripada belajar.
4)   Akhlak dalam Pergaulan Remaja
Secara faktual harus diakui bahwa dalam kehidupan remaja terdapat beberapa hal khusus yang perlu mendapat perhatian, disamping ketentuan umum tentang hubungan bermasayarakat. Beberapa hal khusus tersebut, antara lain tentang mengucapkan dan menjawab salam, berjabat tangan, khalwat, serta mencari teman yang baik.
5)   Membina Akhlak Remaja
Akhlak yang baik adalah fondasi agama dan merupakan hasil dari usaha orang-orang bertakwa. Dengan akhlak yang baik, pelakunya akan terangkat ke derajat tertinggi. Tidak ada amalan yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat nanti dari pada akhlak yang baik.
6)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Dalam pengertian masa remaja belum ada pengertian tentang masa remaja. Peletakkan tentang pengertian remaja malah ditaruh sebelum point  tentang masa remaja. Seharusnya pengertian itu diletakkan dalam point tentang pengertian remaja.
b)   Dalam bab ini tidak ada  dalil dari Al-Qur’an. Alangkah baiknya ditambah dengan dalil yang menguatkan penjelasan tentang ahlak dalam pergaulan remaja.
d.   BAB 8: PERILAKU TERCELA
1)   Israf
a)    Pengertian Sikap Israf
Melampaui batas (berlebihan) dapat dimaknai sebagai suatu tindakan yang dilakukan seseorang di luar kewajaran ataupun kepatutan karena kebiasaan yang dilakukan untuk memuaskan kesenangan diri secara berlebihan.
b)   Bentuk-Bentuk Sikap Israf
Melampaui batas (berlebihan) yang berwujud dalam bentuk pamer kekayaan dan berjiwa sombong akan menyebabkan kehancuran diri sendiri karena tidak mempunyai kontrol pribadi dan sosial.
c)    Nilai Negatif Sikap Israf
Melampaui batas (berlebihan) mengakibatkan amal ibadah orang yang memiilki sifat tersebut terhenti dan tidak sabar. Bahaya melampaui batas (berlebihan), bekasnya dapat menghilangkan keteguhan dan keseimbangan yang dituntut agama dalam melaksanakan berbagai tanggung jawab hukum.
d)   Upaya Menghindari Sikap Israf
Islam mengajarkan sifat kebersahajaan. Setiap muslim dilarang mengikuti nafsu syahwat. Sederhanakanlah dan tundukkan nafsu dengan akal sehat.
2)   Tabzir
a)    Pengertian Sikap Tabzir
Boros sebagai perbuatan yang dilakukan dengan cara menghambur-hamburkan uang ataupun barang karena kesenangan ataupun kebiasaan.
b)   Bentuk-Bentuk Sikap Tabzir
Rasulullah menegaskan bahwa bukan hanya dalam makan atau minum yang dimaksud boros, malah dalam beribadah.
c)    Nilai Negatif Sikap Tabzir
Pamer kekayaan dan berjiwa sombong akan menyebabkan kehancuran diri sendiri karena tidak mempunyai kontrol pribadi dan sosial. 
d)   Upaya Menghindari Sikap Tabzir
Islam menganjurkan hidup sedernaha dan tidak boleh sombong dengan menzalimi diri sendiri ataupun orang lain.
3)   Fitnah
a)    Pengertian Sikap Fitnah
Fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang.
b)   Bentuk-Bentuk Sikap Fitnah
Menurut Sayyid Qutub, yang dimaksud dengan fitnah dalam Al-Qur’an adalah fitnah terhadap agama Islam dan umatnya, baik berupa ancaman, tekanan, dan terror secara fisik, maupun berupa sistem yang merusak, menyesatkan, dan menjauhkan umat manusia dari sistem Allah.
c)    Nilai Negatif Sikap Fitnah
Dengan menggunjing, keburukan orang lain ditonjolkan, rasa percaya dan kasih itu sirna. Orang yang memfitnah dan menggunjing, bearti menunjukkan kelemahan dan kemiskinannya sendiri. Orang yang menggunjing dan memfitnah juga bukan agamawan yang baik.
d)   Upaya Menghindari Sikap Fitnah
Hikmah menghindari sikap memfitnah adalah:
(1)Kedamaian dan ketentraman;
(2)Menumbuhkan persaudaraan;
(3)Akan tercipta persatuan dan kesatuan.
4)   Hasil telaah
Secara umum penjelasan pada bab ini sudah cukup baik dan jelas. Namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan antara lain yaitu :
a)    Pengertian sikap israf
Dalam hal ini belum ada penulisan dalil haditsnya, padahal menurut kami penyertaan hadist tersebut bisa lebih melengkapi penjelasan.
b)   Dalam bentuk-bentuk sikap israf dan tabzir, penjelasannya kurang jelas alangkah baiknya  jika ditambah penjelasan lagi agar siswa lebih paham tentang bentuk-bentuk sikap israf dan tabzir.
c)    Dalam upaya menghindari sikap israf dan tabzir tidak ada penjelasannya secara terperinci sehingga membingungkan siswa dalam memahaminya.
d)   Nilai negative sikap tabzir, penjelasannya  terlalu sedikit  hanya disebutkan satu nilai negatifnya itupun kurang jelas, alangkah baiknya diperbanyak lagi penjelasannya.
e)    Dalam pengertian sikap fitnah terdapat dalil Al-Qur’an namun hanya disebutkan maknanya saja. Alangkah lebih baik jika dalilnya dituliskan agar lebih lengkap penjelasannya.
f)    Point upaya menghindari sikap firnah. Penjelasannya kurang, alangkah baiknya bila ditambah penjelasan tentang upaya menghindari sikap fitnah karena dalam penjelasannya hanya dijelaskan tentang ghibah yang dibenarkan dan hikmah menghindari sikap fitnah.
g)   Point nilai negative sikap israf dan fitnah sebaiknya di beri point-point agar memudahkan peserta didik dalam memahaminya.

BAB III
                                                         ANALISIS                                  
Setelah kami menelaah dan menjelaskan materi akidah akhlak madrasah aliyah, ternyata masih ada beberapa hal yang masih perlu disesuaikan denagan materi ajar yang menurut kami sudah cukup baik, namun ada beberapa hal yang perlu dibenahi kembali.
Untuk itu, kami mencoba menganalisis materi akidah akhlak madrasah aliyah per semesternya dan analisis dari beberapa aspeknya, dan memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
A.      Analisis Per Semester
Menurut hasil telaah kami, secara umum penjelasan pada buku ajar akidah akhlak sudah cukup baik, namun ada beberapa bagian yang menurut kami terdapat kekurangan, diantaranya adalah:
1.         Kelas X Semester 1
a.         Pada bab 1 point 2) prinsip-prinsip akidah, penjelasannya belum berisi tentang prinsip-prinsip akidah secara terperinci. Kemudian dalam point 4) metode peningkatan akidah, tidak dijelaskan secara spesifik, hanya berisi tentang iman.
b.         Pada bab 2 point 2) makna kalimat tauhid la ilaha illallah, kalimat la ilaha illallah belum dijelaskan maknaya. Kemudia point 3) macam-macam tauhid, pada tauhid uluhiyah belum ada dalilnya sedangkan 3 yang lain sudah disertai dalil.
c.         Pada bab 3 pada point syirik besar, jenisnya ada irodah, penjelasannya belum ada untuk point tersebut.
d.        Pada bab 4 pada sub bab bahasan metode peningkatan kualitas akhlak dan kualitas akhlak dalam kehidupan, penjelasannya tidak sesuai dengan judul sub babnya.
2.         Kelas X Semester 2
a.         Pada bab 5, dalam sub bab menguraikan 10 asmaul husna, ada 2 tempat yang tidak disertai dalil, yaitu pada penjelasan An-Nafi’ i  dan Al-Afuww.
b.         Pada bab 6, dalam point e) membiasakan diri bertobat,penjelasannya kurang spesifik, seharusnya dibuat point-point dan bukan berupa paragraf-paragraf panjang.
c.         Pada bab 7, dalam sub bab hikmah kisah ria, hanya dijelaskan kisah pada zaman sahabat, namun tidak dijelaskan hikmah dari kisah tersebut.
3.   Kelas XI Semester 1
a.   Pada bab 1 point 3) hubungan ilmu kalam dengan ilmu lainnya, yakni ilmu fikih dan ilmu tasawuf, belum ada penjelasan tentang hubungan kedua ilmu tersebut dengan ilmu kalam. Kemudian point 6) penerapan ilmu kalam, belum ada penjelasan yang  lebih spesifik  tentang penerapannya.
b.   Pada bab 2 dalam aliran khawarij, sebaiknya dalil surah al-Maidah ayat 44 dituliskan ayatnya.
c.   Pada bab 3, dalam point pengertian akhlak berpakaian, akhlka berhias, akhlak perjalanan, akhlak bertamu, dan akhlak menerima tamu, belum ada penjelasan tentang pengertian akhlak berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu. Kemudian dalam point c) nilai positif akhlak berpakaian, tidak dijelaskan secara jelas tentang nilai-nilai positifnya.
d.   Pada bab 4, dalam point d) upaya menghindari mabuk-mabukan, belum ada penjelasan yang menyangkut tentang upaya menghindari mabuk-mabukan. Kemudian dalam point upaya menghindari berzina, penjelasannya hanya menjelaskan tentang hikmah menhindari berzina.
4.   Kelas XI Semester 2
a. Pada bab 5, point maqamat dalam tasawuf, yakni tawakal,   penjelasannya  terlalu sedikit. Kemudian pada sub tema mahabbah belum ada penjelasan tentang tingkatan-tingkatan mahabbah.
b.   Pada bab 6, dalam point nilai positif sikap rida, belum ada penjelasan yang lebih spesifik tentang nilai-nilai tersebut.
c.  Pada bab 7, dalam point pengertian masa remaja, belum ada pengertian tentang masa remaja. Kemudian tidak disebutkan pula dalil yang mneguatkan penjelasan tentang akhlak dalam pergaulan remaja.
d. Pada bab 8, dalam point bentuk-bentuk sikap israf dan tabzir, penjelasannya kurang jelas. Kemudian dalam upaya menghindari sikap israf dan tabzir tidak ada penjelasannya secara terperinci. Dalam nilai negatif sikap tabzir, penjelasannya terlalu sedikit hanya disebutkan satu nilai negatifnya, itupun kurang jelas. Dalam point upaya menghindari sikap fitnah, penjelasannya kurang dan hanya disebutkan tentang ghibah yang dibenarkan dan hikmah menghindari sikap fitnah.

B.       Analisis dari beberapa aspek
1.    Aspek Metodologi
Menurut Dr. ahmad Tafsir, metode adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.[12]Dalam penyampaian materi banyak sekali metode yang dapat digunakan, namun tidak  metode itu dapat diterapkan dalam tiap materi yang diajarkan, termasuk dalam materi akidah akhlak. Seorang guru harus pandai dalam memilih metode yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga siswa tidak merasa jenuh dengan materi yang ada. Dalam materi akidah akhlak ini menurut kami metode yang sesuai dan tepat yakni metode ceramah, Tanya jawab, dan suri tauladan.
Dalam dunia pendidikan, metode ceramah digunakan oleh seorang guru dalam penyampaian materi pembelajaran untuk memberi keterangan, informasi atau penjelasan agar peserta didik memahami persis seperti yang disampaikan gurunya. Kemudian setelah itu guru dapat menerapkan metode Tanya jawab baik pertanyaan yang harus dijawab terutama dari guru pada siswaataupun sebaliknya pula dari siswa kepada guru. Metode ini digunakan dengan maksud untuk merangsang peserta didik untuk berfikir dan membimbing dalam mencapai kebenaran. Kemudian diterapakan juga  metode suri tauladan yakni metode yang dapat diartikan sebagai tauladan yang baik. Dengan adanya teladan yang baik, misalnya dalam akhlak berpakaian guru memberi contoh dengan memakai pakaian yang sesuai dengan syari’at Islam, maka akan menumbuhkan hasrat bagi peserta didik untuk meniru dan mengikutinya, karena pada dasarnya dengan adanya contoh ucapan, erbuatan dan contoh tingkah laku yang baik dalam hal apapun, maka hal itu merupakan suatu amaliyah yang paling penting dan paling berkesan, baik badi pendidikan anak, maupun dalam kehidupan dan pergaulan manusia sehari-hari.
2.        Aspek Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungan.[13] Dalam hal ini, akidah akhlak mempunyai peranan dalam perkembangan akhlak dan psikis siswa. Dengan adanya akhlak-akhlak terpuji maupun yang tercela yang terdapat dalam materi akidah akhlak, setidaknya dapat berpengaruh pada perilaku siswa. Akhlak yang terpuji hendaknya ditiru dan di amalkan serta akhlak yang tercela dapat ditinggalkan oleh peserta didik
3.        Aspek Sosial
Sosial dapat berarti kemasyarakatan. Sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain. Dalam aspek social ini, materi akidah tentang akhlak terpuji seperti akhlak dalam pergaulan remaja dapat menjadikan siswa dapat berinteraksi sosial dengan baik terhadap sesamanya, dan menghindari akhlak tercela sehingga terhindar dari perbuatan yang tidak diinginkan.
4.                              Aspek Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.[14]
Dalam aspek ini dengan beberapa pelajaran yang ada, diharapkan siswa dapat bersungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap perbuatan terpuji. Begitupun juga dalam menjauhi perbuatan tercela, siswa diharapkan bersungguh-sungguh dalam menghindarinya agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak diiinginkan.
5.        Aspek penulisan dan isi
Dari buku yang kami telaah, secara umum sudah cukup baik, setiap awal bab disajikan cover dengan ilustrasi sebagai gambaran awal tentang materi pelajaran yang akan dipelajari. Ada pula hal-hal yang perlu dibenahi, yaitu pada penjelasan materi berupa paragraf-paragraf panjang sehingga siswa akan jenuh untuk mempelajarinya, istilah asing yang belum disertai penjelasan dan juga tidak dicetak miring, kurangnya kesamaan arah antara lembar tugas dengan penjelasan materi, serta penulisan asma’ul husna yang belum disertai dengan tulisan bahasa arab.
C.       Rekomendasi
Dari hasil tela’ah yang kami lakukan terhadap kelayakan materi akidah akhlak dari segi penjelasannya, kami memaparkan beberapa rekomendasi, diantaranya adalah:
1.        Penjelasan materi sebaiknya ditulis dengan point-point, dan dihindari penulisan dengan paragraf-paragraf panjang.
2.        Penulisan asma’ul husna sebaiknya disertai dengan penulisan arabnya bukan hanya dengan tulisan indonesia.
3.        Pembuatan lembar tugas hendaknya disesuaikan dengan materi yang disampaikan.
4.        Penulisan kata asing hendaknya dicetak miring dan juga disertai penjelasan.
5.        Pada penjelasan kelas 2 semester 1 bab 4 tentang perilaku tercela dalam sub bab konsumsi narkoba hendaknya ditambah penjelasan tentang dalil yang mengatakan bahwa konsumsi narkoba itu diharamkan. Dalil yang digunakan adalah dalil qiyas yakni qiyas ‘illah. Pada qiyas ‘illah, far’ disamakan dengan ashl berdasarkan sifat yang diketahui sebagai landasan (manath) penetapan hokum pada ashl, dan sifat itu terdapat pada ‘far. Misalnya: mengqiyaskan narkoba kepada khamar atas dasar iskar (sifat memabukkan) sebagai illah-nya. Jenis inilah yang telah disepakati sebagai qiyas.[15]

BAB IV
PENGAKHIRAN
D.  Kesimpulan
1.    Telaah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah adalah penyelidikan mengenai bebrapa materi tentang kesulitan-kesulitan, kemudahan, kelebihan dan kekurangan  yang mungkin ada pada materi yang dikaji, dengan menjelaskan tentang bahan yang disampaikan yaitu yang mengenai suatu kepercyaan atau keyakinan yang berupa budi pekerti atau kelakuan, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah pada lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat tinggi atau atas dan menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran dasar.
2.    Penjelasan materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah meliputi akhlak terpuji dan akhlak tercela. Pada kelas X dijelaskan tujuh materi pelajaran, sedangkan di kelas XI berisi delapan materi peajaran.
3.    Dari hasil telaah penyusun, pada penjelasan materi Akidah Akhlak cukup baik, namun masih ada beberapa yang perlu dibenahi, yaitu penjelasan berupa paragraf-paragraf panjang, istilah asing yang belum disertai penjelasan dan juga tidak dicetak miring, kurangnya kesamaan arah antara lembar tugas dengan penjelasan materi, serta penulisan asma’ul husna yang belum disertai dengan tulisan bahasa arab.
E.  Saran dan Harapan
1.    Guru juga sangat berperan aktif dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, guru juga harus menguasai bahan ajar yang akan disampaikan dan penggunaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran.
2.    Di harapkan bagi peserta didik dapat menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu, berperilaku adil dan jujur, giat dalam belajar serta berakhlaq  al-karimah yang baik sesuai tuntunan agama Islam.
3.    Semoga hasil telaah kami ini bisa sampai pada penerbit sehingga diharapkan bisa menjadi bahan tolak ukur untuk memperbaiki buku ajar yang telah ada.
4.    Harapan penulis semoga karya yang sederhana dan jauh dari sempurna ini dapat membawa manfaat yang lebih banyak bagi siapa saja yang membaca makalah ini.
F.   Kata Penutup
       Alhamdulillah dengan segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat illahi Rabbi karena berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlaq Madrasah Aliyah.
       Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dengan segala kemampuan, namun penulis yakin hasilnya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran selalu penulis harapkan khususnya kepada para pembaca.
       Akhirnya penulis berdo’a semoga tela’ah penjelasan materi Aqidah Akhlaq Madrasah Aliyah ini dapat membawa manfaat dan semoga Allah SWT. Selalu menunjukan kepada kita jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang tersesat. Amin Ya Rabbal Alamin.
                                                                                             




DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Abu dan M. Uma. 1992. Psikologi Umum Edisi Revis., Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Burhanuddin. “Apa Sih Akidah dan Akhlak itu???”. http://blog.uin-malang .ac.id/burhannudin/2011/03/09/apa-sih-aqidah-dan-akhlak-itu/
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Gerungan, Raflen A. “Pengertian Pendidikan”. http: //raflengerungan. Wordpress .com / korupsi-dan-pendidikan/pengertian-pendidikan/
Khoiri, Nur.  2011. Metodologi Pembelajaran PAI.  Jepara: INISNU.
Nasution, Lahmudin. 2001. Pembaruan Hukum Islam dalam Madzhab Syafi’i. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cet. 1.
Rahman, Roli Abdul, dan M. Khamzah. 2007. Menjaga Akidah Akhlak untuk kelas X Madrasah Aliyah. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
______, 2008. Menjaga Akidah Akhlak untuk kelas XI Madrasah Aliyah. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Winchester, Dean. “Manfaat Belajar Pendidikan Akidah Akhlak Terhadap Perilaku Siswa”.http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2027520-manfaat -belajar-pendidikan-akidah-akhlak/#ixzz1tm4GgVjZ
Zhuldyn. “Implementasi Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari”. http: //zhuldyn. wordpress.com/materii-lain/agama/implementasi-akhlak-dalam-kehidupan sehari-hari/




[1] Dean Winchester, “Manfaat Belajar Pendidikan Akidah Akhlak Terhadap Perilaku Siswa”, http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2027520-manfaat-belajar-pendidikan-akidah-akhlak/#ixzz1tm4GgVjZ

[2] Zhuldyn, “Implementasi Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari”, http: //zhuldyn. wordpress.com/materii-lain/agama/implementasi-akhlak-dalam-kehidupan-sehari-hari/
[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), Cet. 4, hlm. 1160
[4] Ibid, hlm. 356.
[5] Ibid. Hlm. 638
[6] Ibid., hlm.723
[7] Burhanuddin, “Apa Sih Akidah dan Akhlak itu???”, http://blog.uin-malang.ac.id/ burhannudin /2011/03/09/apa-sih-aqidah-dan-akhlak-itu/
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Departemen Pendidikan Nasional, Op.Cit., hlm. 694
[12] Nur Khoiri, Metodologi Pembelajaran PAI., (Jepara:INISNU, 2011), hlm. 5.
[13] Abu Ahmad dan M. Uma, Psikologi Umum Edisi Revisi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1992), hlm. 3
[14] Raflen A. Gerungan, “Pengertian Pendidikan”, http://raflengerungan.wordpress.com/ korupsi-dan-pendidikan/pengertian-pendidikan/
[15] Lahmudin Nasution, Pembaruan Hukum Islam dalam Madzhab Syafi’I, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), Cet.1, hlm. 100-101.

1 komentar: