Selasa, 27 Desember 2011

TAFSIR SURAT YASIN AYAT 12


BAB I
PENDAHULUAN


  1. LATAR BELAKANG

            Surah Yasin merupakan surah ke 41 dari segi perunutan turunnya. Ia turun sesudah surah al-Jin dan sebelum surah al-Furqan yakni sekian tahun setelah masa kenabian dan sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj.
            Menurut cara perhitungan mayoritas ulama’,jumlah ayat-ayat surahYasinadalah82 ayat,sedang menurut ulama-ulama Kufah adalah 83 ayat.
Surah ini dinamai surah Yasin karena kedua huruf alfabet Arab (  ) ya' dan (  ) sin memulai ayat-ayatnya. Nama ini telah dikenal sejak masa Rasul saw. Beliau bersabda: Iqra'u ala mautakum Yasin / bacakanlah surah Yasin bagi mautakum (HR.an-Nasa'i melalui Maqbil ibn Yasar.dan diriwayatkan juga oleh Ibn Majah dan lain-lainnya). Kata mautakum dipahami oleh banyak ulama dalam arti orang yang sedang mati. Ada juga yang memahaminya dalam arti yang telah mati/wafat.
            Ia dikenal juga dengan nama Qalbu al-Qur'an /jantung al-Qur'an). Penamaan ini berdasarkan satu hadits tang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi,tetapi dinilainya gharib,bahkan banyak ulama menilainya dhaif. Menurut Imam Ghazali,penamaan itu disebabkan karena surah Yaasin menekankan uraiannya tentang hari Kebangkitan,sedang keimanan baru dinilai benar,jika seseorang mempercayai hari Kebangkitan. Memang kepercayaan tentang hari Kebangkitan mendorong masusia beramal saleh lagi tulus-walau tanpa imbalan duniawi. Keyakinan itu juga mengantar manusia menghindari kedurhakaan,karena jika tidak,ia akan tersiksa di akhirat nanti.
Surah Yaasin memiliki ciri-ciri tertentu,seperti ayat-ayatnya yang tidak panjang serta kemudahan pengucapannya. Tujuan uraiannya adalah menanamkan akidah,baik yang berkaitan dengan keesaan Allah dan risalah kenabian,maupun tentang kebenaran Al-Qur'an dan keniscayaan Kiamat.
            Al-Baqa'i juga berpendapat demikian. Dari nama-nama surah ini selain Yasin.yaitu Qalb al-Qur'an dan lain-lainnya,ulama ini berkesimpulan bahwa tujuan utama surah ini adalah pembuktian tentang risalah kenabian. Itulah yang merupakan ruh wujud ini serta jantung semua hakikat. Rasul tang diutus menyampikannya adalah pemimpin para rasul,sedang rasul-rasuladalah kalbu semua wujud. Rasulullah Muhammad saw.diutus dari Mekkah yang merupakan kalbu dan pusat bumi,beliau berasal dari suku Quraisy yang merupakan kalbu bangsa Arab dan manusia.
            Disini penulis akan membahas tentang surah Yasin ayat 12. Dimana surah Yasin adalah salah satu surah yang keseluruhan ayat-ayatnya turun di Mekah sebelum Nabi Muhammad saw.berhijrah. Sementara ulama berpendapat bahwa ayat ke-12 turun di Madinah,berkaitan dengan keinginan Bani Salamah meninggalkan lokasi Masjid Nabawi. Riwayat ini walaupun dinilai shahih,namun itu tidak berarti bahwa ayat tersebut turun di Madinah. Nabi saw.hanya menyampaikan kepada mereka kandungan ayat tersebut,dan riwayat itu tidak menyebut bahwa ayat itu turun pada saat itu.



BAB II
PEMBAHASAN

SURAT YASIN AYAT 12


“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.[1] Dan segala sesuatu[2] Kami pelihara dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

Firman Allah:” Kami akan menghidupkan orang-orang mati hati dan pikirannya dengan member taufiq (petunjuk) masuk Islam Kami tuliskan apa-apa yang mereka usahakan,baik amalan baik atau amalan jahat,begitu juga bekas-bekas usaha mereka yang baik,seperti ilmu yang diajarkannya,kitab yang dikarangnya,mesjid-mesjid dan langgar yang diwakafkannya,jembatan yang dibuatnya dan sebagainya. Semua ini dituliskan masuk amaln salih dan terus mendapat pahala selama masih ada juga bekas-bekas peninggalannya itu. Atau bekas usaha yang jahat,seperti mengadakan tempat menyamun,tempat berzina,tempat minum arak,tempat berjudi dan sebagainya. Semua ini dituliskan jadi amaln jahat dan mendapat dosanya,selama masih ada bekas peninggalannya itu.
Semua itu Kami reken (hitung) dalam kitab yang terang,tak ada keraguan dan kekeliruan sedikitpun,sehingga tiap-tiap orang tak dapat memungkirinya.[3]
ASBABUN NUZUL SURAT YASIN AYAT 12

Bani Salamah yang bertempat tinggal di pinggir kota Madinah berkeinginan pindah tempat ke dekat masjid. Sehubungan dengan itu,maka Allah swt.menurunkan ayat ke-12 yang menegaskan bahwa setiap ucapan dan langkah manusia pasti dicatat oleh Allah swt.
Setelah ayat ke-12 diturunkan,maka Rasulullah saw.menasehati Bani Salamah :”Sesungguhnya setiap langkah menuju masjid dicatat oleh Allah saw.sebagai amal kebajikan. Karena itu,sebaiknya kamu jangan berpindah dari tempat tersebut”.(HR.Tirmidzi dengan sanad hasan. Dan Hakim dengan sanad sahih dari Al-Kudri. Imam Thabrani juga meriwatkan dari Ibnu Abbas).
Sebagian shahabat Anshar ada yang bertempat tinggal berjauhan dengan masjid. Maka mereka mengadu kepada Rasulullah,dan meminta izin untuk pindah di dekat masjid. Sehubungan dengan itu,maka Allah saw.menurunkan ayat ke-12 yang menegaskan bahwa setiap amal tidak lepas dari catatan Allah saw. Setelah ayat ini turun,maka Rasulullah saw.menasehati agar mereka tidak pindah tempat. Sebab setiap langkah menuju masjid dicatat sebagai amal kebajikan. (HR.Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas).[4]

PENJELASAN TAFSIR

            Setelah ayat yang lalu menguraikan tentang risalah kenabian,kini dalam ayat 12 Surat Yasin berbicara tentang kebangkitan manusia setelah kematiannya.Ayat ini menyatakan bahwa: Sesungguhnya Kami menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dari kubur masing-masing pada hari kiamat baik yang mati hatinya maupun yang telah berhenti denyut jantungnya dan tidak berfungsi,dan Kami [5] melalui malaikat-malaikat yang Kami tugaskan,terus-menerus mencatat apa yang telah mereka kerjakan selama mereka hidup di dunia,yang baik dan yang buruk,juga pengaruh baik yang mereka lakukan dan termasuk pengaruh buruk yang mereka tinggalkan sesudah mati-bukan karena Kami khawatir lupa tetapi untuk menjadi bukti bagi setiap yang bermaksud mengajukan keberatan dan demikian juga Kami mencatat bekas-bekas yang mereka tinggalkan yakni amal-amal mereka yang diikuti oleh generasi sesudah mereka,sehingga jika baik,mereka ikut memperoleh juga ganjaran seperti ganjaran orang-orang yang mengamalkannya sesudah mereka dan sebaliknya pun demikian. Seperti ilmu yang mereka ajarkan atau kendaraan perang yang mereka wakafkan di jalan Allah atau rumah sakit yang mereka bangun untuk kemanfaatan ummat. Atau mungkin pengaruh buruk,seperti menanamkan rasa dengki dan iri serta pengaturan prinsip-prinsip kejahatan dan permusuhan diantara sesama manusia.
            Dalam konteks ini Nabi Muhammad saw.Bersabda:”Siapa yang memulai atau merintis dalam Islam satu kebajikan maka dia akan memperoleh ganjarannya dan ganjaran orang-orang yang mengerjakan sesudah perintis itu,dan siapa yang memulai merintis dalam Islam satu dosa maka dia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa sedikitpun berkurang dosa mereka (yang mengerjakan sesudah perintis itu)”(HR.Muslim). Dikali lain Nabi saw.bersabda:”Tidak seorang pun yang terbunuh secara aniaya,kecuali atas putra Adam yang pertama (Qabil yang membunuh saudaranya Habil) tanggup jawab dari dosa pembunuhan itu,karena dia adalah yang pertama melakukan pembunuhan secara anianya” (HR.Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Mas’ud). [6]
            Ibnu Hatim meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali katanya Rasulullah saw.bersabda:



”Barangsiapa membuat tradisi yang baik,maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala dari orang yang mengamalkannya sepeninggal dia tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang membuat tradisi buruk maka dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sepeninggal dia tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka.[7]
            Yang dimaksud bekas-bekas (yang mereka tinggalkan),menurut Imam As-Suyuthi menafsirkannya dengan segala sesuatu yang diikuti orang lain sepeninggalnya. Namun penafsiran ini hanya sekedar contoh saja,bukan sebagai pembatasan makna,sebab obyek yang ditulis lebih banyak dari sekedar yang diikuti orang setelah meninggalnya. Amal perbuatan tidak berhenti dengan kematian dengan kasar. Dan ini mencakup ilmu yang bermanfaat,sedekah jariyah,anak shalih yang mendoakan orang tua dan amalan sunnah yang dihidupkan dan diikuti orang-orang. Ini berdasarkan sabda Nabi saw:
”Bila anak Adam meninggal,maka telah terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah,ilmu yang bermanfaat,atau anak shalih yang berdoa untuknya”.[8]
            Ada juga yang memahami sebagai semua yang mengiringi misal: bekas langkah atau telapak kaki setelah berjalan. Maka,bekas telapak kaki ini mengiriginya baik menuju ketaatan atau kemaksiatan. Ini antara lain berdasarkan sabda Nabi saw.kepada Bani Salamah yang bermaksud pindah ke lokasi dekat Masjid Nabawi-yang ketika itu masih kosong,lalu Nabi saw.bersabda sebanyak dua kali bahwa: ”Tetaplah di tempat tunggal kamu,bekas-bekas kamu,bekas-bekas kamu ditulis”(yakni langkah-langkah kamu dicatat)  (HR.Muslim dan Ahmad melalui Jabir Ibn’Abdillah).[9]
            Adapun yang dimaksud dituliskannya perbuatan mereka berikut pengaruhnya adalah bahwa mereka akan mendapatkan balasan atas semia itu. Kalau baik,maka akan dibalas yang baik,dan kalau buruk maka akan dibalas yang buruk pula.
            Kemudian Allah menyebut bahwa pencatatan dan penulisan itu tidak hanya mengenai amal perbuatan bani Adam saja,tetapi menyangkut pula segala sesuatu.[10]
            Bukan hanya amal-amal manusia yang Kami ketahui tetapi kegiatan semua makhluk,dan segala sesuatu[11] yang berkaitan dengan semua makhluk,baik manusia maupun selain manusia,Kami hitung,kumpulkan dan pelihara dalam Kitab Induk yang nyata yakni Lauh Mahfuzh atau semua terjangkau oleh pengetahuan Allah Yang Maha Luas.[12]
            Dan Kami terangkan segala sesuatu dan Kami pelihara dalam sebuah Kitab Induk besar menjadi pedoman yang menjadi dasar dan tidak dipungkiri yaitu ilmu ’Azali yang dahulu,yang tidak melewatkan barang sekecil dan sebesar apapun,semua akan dicatat.[13]
            Allah sebagai Muhsi yang Maha Mengetahui,Mencatat,dan Memelihara dipahami oleh banyak ulama sebagai Dia yang mengetahui kadar setiap peristiwa dan perinciannya,baik yang terjangkau oleh makhluk,maupun yang nereka tidak terjangkau,seperti hembusan nafas,perincian perolehan rezeki dan kadarnyauntuk masa kini dan mendatang. Menggambarkan bahwa Allah mengetahui dengan amat teliti perincian segala sesuatu dari segi jumlah dan kadarnya,panjang dan lebarnya,jauh dan dekatnya,tempat dan waktunya,kadar cahaya dan gelapnya,sebelum,ketika,dan saat wujudnya serta lain-lainnya sebagainya yang semua itu tercatat dan terpelihara dengan baik.
            Thabathaba’i menggarisbawahi bahwa apa yang tercatat oleh para malaikat dari kegiatan manusia dalam buku amalan perorangan,yakni yang dimaksud oleh firman-Nya:”Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan” tidak sama maknanya dengan apa yang dipelihara-Nya dalam Kitab Induk yang nyata.Memang ada catatan khusus untuk setiap pribadi {baca QS.Al-Isra’(17):13} ada untuk setiap ummat {QS.Al-Jatsiyah(45):28} dan ada lagi catatan di Lauh Mahfuzh yang mencakup segala sesuatu.[14]Allah berfirman menyangkut Lauh itu:



”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui-Nya (pula),dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering,melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”{QS.An-An’am(6):59}.
            Perbedaan antara catatan amal baik dan buruk manusia,dan apa yang dihitung-Nya dalam Kiotab Induk. Perbedaan itu untuk mengisyratkan adanya sekian banyak hal-hal yang diketahui secara rinci oleh Allah swt.dan yang terdapat dalam Lauh Mahfuzh atau ilmu-Nya yang luas,tetapi tidak diketahui oleh makhluk-Nya. Sebagai contoh,masa kedatangan Kiamat,merupakan salah satu yang hanya diketahui oleh Allah sedang  makhluk apapun walau malaikat yang termulia-tidak mengetahuinya. Menggambarkan Ilmu Allah atau yang tercatat dalam Lauh Mahfuzh,sedang malaikat yang mencatat amal manusia,sekedar mencatat amal itu. Adapun balasan dan ganjaran yang diterima pelakunya,boleh jadi tidak diketahui oleh para pencatat itu.
            Ayat yang tertera diatas sebenarnya masih ada hubungannya dengan ayat sebelumnya:

”Sesungguhya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan[15] dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih,walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berikanlah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”.(QS.Yasin:11).
Ada dua hal yang menyatukan kedua ayat tersebut:
  1. Setelah Allah menceritakan kondisi orang yang mampu mengambil manfaat dari peringatan Rasulullah (ayat 11) dan juga keadaan orang yang menutup telinganya dari-Nya (dalam ayat sebelumnya),maka dalam ayat ini,Allah menyatakan bahwa mereka semua akan dihidupkan kembali setelah kematiannya,dan akan dapat balasan sesuai dengan amalannya. Oleh karene itu,hubungan antara kedua ayatnya sangat jelas. Sebab ayat ini mengandung kabar gembira bagi arang mukmin yang menerima dakwah dan juga sekaligus berisi peringatan serta ancaman bagi oarang-orang menentang.
  2. Setelah Allah menceritakan tentang orang-orang yang mendustakan(ayat-ayat-Nya),sebenarnya penolakan itu ibarat kematian. Jika Allah mampu menghidupkan jasad kasar orang-orang yang telah meninggal secara hakiki,tentu Dia juga mampu menghidupkan mereka yang meninggal secara maknawi(dalam kekufuran,maksudnya memberi hidayah).[16]


DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Surat Yasin ayat 12 dilihat dari perspektif pendidikan yaitu:
  1. Memberi penjelasan kepada peserta didik tentang kekuasaan Allah dalam menghidupkan manusia yang telah mati Allah membuktikannya dengan beberapa dalil aqli dan hissi(bisa ditangkap panca indera). Diantara dalil aqli yang termaktub dalam ayat:(QS.Ar-Rum:27). Ini sebuah petunjuk bagi peserta didik mengenai mungkinnya menghidupkan kembali orang yang telah mati. Sebab,proses pengulangan lebih mudah dari pada memulai. Dzat yang mampu memulai penciptaan,maka Dia sudah pasti lebih mudah untuk mengulangi-Nya kembali. Persis seperti kandungan ayat:(QS.Al-Anbiya’:104). Sedang yang berkaitan dengan petunjuk yang dapat dicerna panca indera terdapat dalam(QS.Fushsilat:39).
  2. Menjelaskan kepada peserta didik bahwa Allah akan mencatat amal perbuatan manusia yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia,yang baik dan yang buruk dan juga akan mencatat bekas-bekas yang mereka tinggalkan yakni amal-amal mereka yang diikuti oleh generasi sesudah mereka.
  3. Mengisyaratkan kepada peserta didik bahwa Allah dapat mengembalikan manusia menuju kepada pangkuan Al-Haq(kebenaran). Sebab Allah mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati baik yang mati hatinya maupun yang telah berhenti denyut jantungnya dan tidak berfungsi lagi otaknya.
  4. Mendidik anak bahwa segala sesuatu yang muncul dari manusia telah tertulis,baik yang akan menolongnya atau perkara yang akan menjadi bebannya di akhirat.
  5. Penjelasan bagi peserta didik tentang hikmah Allah dalam mengendalikan perkara-perkara dengan ketelitian dan kejelian-Nya. Tidak satu pun yang terlewatkan.
  6. Memberikan isyarat kepada peserta didik adanya sekian banyak hal-hal yang diketahui secara rinci oleh Allah swt.tetapi tidak diketahui oleh makhluk-Nya.
  7. Menjelaskan bahwa adanya balasan dan ganjaran yang diterima oleh pelaku suatu amalan,baik amal baik maupun amal buruk. Semuanya akan mendapat balasan,dan boleh jadi hanya diketahui oleh Allah swt.
  8. Memberikan penjelasan bahwa akan ada kehidupan lagi setelah manusia itu mati.

BAB III
PENUTUP


A.KESIMPULAN

            Dari beberapa penjelasan di atas,dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
  1. Sesungguhnya Allah akan menghidupkan orang-orang mati dari kubur masing-masing pada hari kiamat,dan akan menulis amal perbuatan yang telah mereka lakukan,juga pengaruh baik yang mereka lakukan dan termasuk pengaruh buruk yang mereka tinggalkan sesudah mati.
  2. Bahwa mereka akan mendapatkan balasan atas semua perbuatnnya itu. Kalau baik,maka akan dibalas yang baik,dan kalau buruk maka akan dibalas yang buruk pula.
  3. Allah menyebutkan bahwa pencatatan dan penulisan itu tidak hanya mengenai amal perbuatan bani Adam saja,tetapi menyangkut pula segala sesuatu.
  4. Allah menerangkan segala sesuatu dan Allah pelihara dalam sebuah Kitab Induk besar menjadi pedoman yang menjadi pedoman yang menjadi dasar dan tidak di pungkiri yaitu ilmu ’azali yang dahulu,yang tidak melewatkan barang sekecil dan sebesar apapun,semua akan dicatat.


B.SARAN

Saran-saran yang bisa penulis berikan adalah:
  1. Para pelajar lebih memahami tentang kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.
  2. Para pelajar lebih memaksimalkan dan mengoptimalkan dalam belajar Al-Qur’an.
  3. Para pelajar lebih mengerti tentang tafsir Al-Qur’an.


DAFTAR PUSTAKA


Departemen Agama RI.2002. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya. Semarang:Toha Putra.
 Shihab,Quraish.2006.Tafsir Al-Misbah Pesan,Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Volume 11.Jakarta:Lentera Hati.
Mahali,Mudjab.2002.Asbabun Nuzul,Pendalaman Al-Qur’an,Surat Al-Baqarah-An-Nas.Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Al-Maraghi,Mushtafa.1992.Terjemah Tafsir Al-Maraghi:22.Semarang:Toha Putra.
Yunus,Mahmud.2004.Tafsir Qur’an Karim Bahasa Indonesia.Jakarta:Hidakarya Agung.   
Ashim.1426 H.Terjemah secara ringkas dari kitab Tafsir Surat Yasin Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Dalam Majalah As-Sunnah Edisi  01/1X.
(http://www.google.com).





           




[1] Banyak ulama memahami maksud kata ini bermakna “amal-amal manusa yang mereka tinggalkan setelah           kepergian mereka”,seperti harta benda yang mereka wakafkan,atau ilmu pengetahuan yang mereka bukukan atau ajarkan atau bangunan yang mereka tinggalkan  untuk kepentingan social dan semacamnya. aAda juga yang memahami dalam arti bekas-bekas langkah-kaki mereka menuju ketaatan atau kemaksitan. Lihat M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah,pesan,kesan dan keserasianAl-Qur’an,Volume 11,(Jakarta:Lentera Hati,2006)hlm.514.
[2] Segala segala yang dimaksud ayat ini bukan hanya segala sesuatu dari amal manusia tetapi segala sesuatu       tang berkaitan dengan makhluk,baik yang bernyawa mauoun yang tidak. Lihat M. Quraish Shihab,Ibid,hlm.515.
[3] Prof. Dr. H. Mahmud Yunus,Tafsir Quran Karim Bahasa Indonesia,(Jakarta:PT.HidakaryaAgung,2004),hlm.647.
[4] A.Mudjab Mahali,Asbabun Nuzul,Studi Pendalaman Al-Qur’an,Surat Al-Baqarah-An-      Nas,(Jakarta:PT:Raja Grafindo Persada,2002),hlm.705-706.
[5] Yang berarti Kami,adalah dhomir jamak(kata ganti jamak tunggal)yang mewakili lafzhul Jalalah (Allah)yang satu.Berarti bentuk ini,pasti ditujukan sebagai tazhim(pengagungan kepada Allah). Lihat Majalah As Sunnah Edisi 01/1X 1426 H. yang merupakan terjemahan secara ringkas dari kitab Tafsir Surat Yasin karya Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin oleh ustadz Ashim. 
[6] M.Quraish Shihab,Loc.Cit
[7] Ahmad Mushtafa Al-Maraghi,Terjemah Tafsie Al-Maraghi 22,(Semarang:CV.Toha Putra,1992),hlm.259-260.
[8] HR.Muslim Kitab Al-Washiyyah,Bab Ma Yalhaqu Al Insana min Ats Tsawab Ba’da Wafatihi,(Bab Wasiat,Bab Pahala yang akan menyusul manusia setelah kematiannya),no.1631.  
[9] M.Quraish Shihab,Op.cit,hlm.514-515.
[10] Ahmad Mushtafa Al-Maraghi,Op.cit,hlm.260.
[11] Segala sesuatu yang dimaksud bukan hanya segala sesuatu dari amal manusia-tetapi segala sesuatu yang        berkaitan dengan makhluk,baik yang bernyawa maupun yang tidak. Lihat M.Quraish Shihab,Op.cit,hlm.515.
[12] Ibid.hlm.514.
[13] Ahamad Mushtafa Al-Maraghi. Loc.cit.
[14] M.Quraish Shihab..Loc.cit.
[15] Peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw.hanyalah berguna bagi yang mau mengikutinya. Lihat Departemen Agama RI,Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya,(Semarang:PT.Karya Toha Putra,2002),hlm.626.
[16] Lihat Majalah As-Sunnah Edisi 01/1X,Loc.Cit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar