Senin, 02 Januari 2012

DESAIN MATERI PEMBELAJARAN

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Desain materi pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Sementara itu desain materi pembelajaran sebagai proses adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran[1]. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan. Dengan demikian dapat disimpulkan desain materi pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.
2. Rumusan Masalah
Beberapa pengertian diatas adalah sebuah pijakan bagi tim penyusun untuk merumuskan permasalahan yang telah dibahas dalam makalah ini yaitu:
-          Bagaimanakah proses mendesain materi pembelajaran.
B. PEMBAHASAN
Dalam mendesain materi pembelajaran ada beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh seorang guru atau seorang dosen, hal ini pula yang akan menentukan  sempurna atau tidaknya desain materi pembelajaran, yaitu:
1. PENGUMPULAN INFORMASI
Sebelum seorang guru memulai pelajarannya di minggu pertama hari sekolah atau di dalam kelas, tentu ia melakukan persiapan-persiapan dalam beberapa aspek desain mata kuliah atau mata pelajaran. Persiapan ini dapat dikatakan sebagai satu usaha pembuktian akuntabilitas profesionalisme pembelajaran seorang dosen kepada mahasiswanya yang telah memberikan kepercayaan kepada perguruan tinggi. Paling tidak ada empat elemen yang harus dipersiapkan seorang dosen dalam mendesain satu matakuliah, yaitu:
  1. Elemen materi-materi perkuliahan,
  2. Elemen kompetensi atau tujuan pembelajaran atau hasil belajar,
  3. Elemen strategi pembelajaran atau metode pembelajaran, dan
  4. Elemen evaluasi pembelajaran
Keempat elemen itu memiliki karakter yang bersifat holistik, serasi, sekata, senada. Meskipun wujudnya masing-masing elemen berbeda, tetapi hakekatnya adalah sama.[2]
Untuk mendesain materi, langkah pertama sebelum seorang dosen memulai mendesain materi-materi perkuliahan dalam bentuk apapun, ia seharusnya mulai mengumpulkan sebanyak mungkin informasi-informasi yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan matakuliah yang akan diampu. Informasi-informasi itu mungkin didapatkan dalam bentuk hard copy, soft copy melalui perpustakaan, internet dan atau konsultasi dari beberapa sumber:
  • Referensi baik yang utama atau sekunder
  • Jurnal-jurnal ilmiah
  • Hasil penelitian terbaru
  • Out-line matakuliah yang ada sebelumnya
  • Satuan acara perkuliahan yang ada sebelumnya
  • Silabus, Kurikulum
  • Konsultasi dengan dosen senior bagi mereka asisten dosen dan
  • Konsorsium keilmuan.[3]
Di samping itu, sangat perlu sebelum memulai mengorganisasikan atau mendesain bahan ajar mempertimbangkan butir-butir berikut: semua informasi itu belum lengkap kalau materi matakuliah itu belum dikomunikasikan dengan visi, misi dan program studi atau jurusan yang mengembangkan matakuliah itu.
  1. Apa visi dan misi yang dimiliki oleh sekolah? Jawaban ini akan menjiwai semua isi perangkat kurikiulum dan khususnya mata pelajaran yang akan diampu. Desain atau organisasi bahan ajar mutlak harus menjawab visi dan misi lembaga yang mengembangkan mata pelajaran itu.
  2. Apa urgensi mata pelajaran yang diampu dalam sekolah? Apa arti penting mata pelajaran itu dalam pengembangan sekolah?
  3. Apakah mata pelajaran ini sebagai mata pelajaran pengantar? Atau pendalaman?
  4. Apakah mata pelajaran ini kategori mayor atau utama? Apakah mata pelajaran ini termasuk minor? Atau apakah mata pelajaran ini termasuk mata pelajaran pengayaan?
  5. Berapa beban auatu bobot mata pelajaran ini? Berapa kali diberikan dalam satu minggu?
  6. Apa jenjang pendidikan yang mengembangkan mata pelajaran ini? Apakah lanjutan pertama atau lanjutan atas?
  7. Siapa siswa-siswa yang akan mengambil mata pelajaran itu? Apa latar belakang kompetensi mereka?
  8. Apa prior-knowledge yang mereka miliki untuk mengambil mata pelajaran ini? Sejauhmana mereka telah menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan mata pelajaran ini?
  9. Apakah siswa yang mengambil mata pelajaran ini pemula? Atau siswa yang ingin memperdalam mata pelajaran?
Langkah kedua, setelah informasi materi dianggap memadai, maka ada beberapa alternatif yang mungkin dilakukan oleh seorang dosen atau guru untuk mendesain materi perkuliahan atau pembelajaran yang relatif siap disajikan atau di-share kepada mahasiswa.
  1. Alternatif Pertama Mendesain Materi
Desain materi dalam bentuk satu daftar topik-topik materi yang tersusun secara naratif dan linier sesuai dengan urutan atau skuensi topik bahasan yang diinginkan. Contoh dibawah ini, daftar topik-topik bahasan relatif global.
Contoh:
Matakuliah     : Penelitian Sastra
Bobot              : 2 (dua) sks
  1. Sejarah Perkembangan Penelitian Sastra
  2. Paradigma Penelitian Sastra
  3. Pendekatan, Teori, Metodologi, Metode dan Tekhnik
  4. Teori Penelitian Sastra I: Teori Strukturalisme I
  5. Teori Penelitian Sastra II Teori Strukturalisme II Robert Stanton
  6. Teori Penelitian Sastra III Teori Strukturalisme Genetik I
  7. Teori Penelitian Sastra IV Teori Strukturalisme Genetik II Lucian Goldmann
  8. Teori penelitian sastra V teori
  1. Alternatif kedua mendesain materi
Di samping mendesain materi dalam bentuk linier, alternatif kedua adalah dalam sebuah gambar yaitu peta konsep (concept map).
  1. 2. PETA KONSEP
Peta konsep adalah merupakan diagram yang menunjukan hubungan antara konsep-konsep yang mewakili pembelajaran.[4] Peta konsep juga diartikan tampilan dari sebuah gambar atau bagan tentang konsep-konsep materi yang tersusun sesuai dengan tabiat ilmu pengetahuan itu sendiri tanpa mengindahkan urutan atau skuensi topik bahasan yang diinginkan.[5]
  1. a. Langkah-Langkah Membuat Peta Konsep
Untuk mendesain materi perkuliahan untuk satu semester dalam bentuk sebuah peta konsep, ada beberapa langkah yang mutlak dilakukan khususnya bagi dosen pemula, dosen asisten atau dosen.
  1. Brainstormingatau curah gagasan,
  2. Menentukan 8-12 konsep (topik) besar (major) atau utama,
  3. Menulis dan menyusun konsep-konsep dalam satu bentuk gambar,
  4. Menghubungkan konsep-konsep dengan garis,
  5. Memberi label di atas garis panah.
Langkah pertama melakukan Brainstorming[6] atau curah gagasan, anda berusaha menuangkan segala topik atau konsep yang berkaitan dengan materi mata kuliah dengan leluasa, bebas tanpa beban takut salah. Seperti ketika melakukan Brainstorming atau curah gagasan untuk mata kuliah Kritik Sastra/ Naqd al-Adab, si dosen mencurahkan semaksimal mungkin segala konsep, ide, topic terkait, seperti:
  • Sastra/al-Adab
  • Novel
  • Cerpen
  • Drama
  • Puisi/al-Shi`r
  • al-Nasr/Prosa
  • kritik/al-Naqd
  • Semantik
  • Semiotik
  • Strukturalisme
  • Strukturalisme genetic
  • Hermeneutik
  • Naratologi
  • Post Strukturalisme
  • Teori
  • Pendekatan
  • al-Falsafah al-Jamaliyah/estetika
  • Metode
  • Tekhnik
  • Darida
  • Lucian Goldman
  • Perkembangan Penelitian Sastra
  • Paradigma Penelitian Sastra
  • Teori Penelitian Sastra V Teori Semiotik I
  • Roland Barthes
  • Teori Feminis Julia Kristeve
  • Teori Feminis Donna J. Haraway
Langkah kedua, setelah melakukan Brainstorming atau curah gagasan, Anda menyeleksi konsep-konsep atau topik-topik dari dua puluh delapan menjadi sekitar 8 sampai 12 konsep yang lebih besar. Dalam penyeleksian konsep-konsep, mungkin ada beberapa konsep yang bisa dicarikan jenisnya atau konsep yang lebih besar. Konsep novel, cerpen, drama, puisi dan prosa dapat dijadikan dalam satu konsep yang lebih besar yaitu konsep sastra. Sebagai hasil seleksi konsep yang lebih besar, umpamanya dapat disebut sebagai berikut:
  • Ma`na al-Naqd wa al-Adab
  • Ma al-Shi`r wa al-Nashr
  • Metode Strukturalisme
  • Metode Genesis Strukturalisme
  • Metode Semiotika
  • Al-Falsafah al-Jamaliyah
Langkah ketiga, setelah menyeleksi atau mensortir konsep-konsep menjadi lebih besar yang terdiri dari sekitar 8 sampai 12 konsep, Anda menggambar satu peta konsep dalam satu halaman. Jika anda melihat peta bumi yang memuat nama-nama kota besar.
Langkah keempat, setelah menggambar satu peta konsep, anda memberi tanda hubungan arah antara konsep-konsep sebagaimana anda menemukan pada peta bumi yang memuat garis penghubung antara nama-nama kota besar. Dalam peta konsep anda melihat hubungan panah antara nama-nama konsep besar.
Langkah kelima atau terakhir, setelah memberi tanda hubungan arah antara konsep-konsep, anda mutlak memberi makna pada garis penghubung atau satu label di atas tanda panah. Label ini menjadi penjelas sifat hubungan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Setelah semua garis panah memiliki label, maka sebuah peta konsep dinyatakan telah jadi sebagai draft permulaan.
  1. b. Bagaimana Memperbaiki Peta Konsep (Concept Map)
Untuk memperbaiki draft sebuah peta konsep, ada beberapa langkah yang sebaiknya dicoba. Perbaikan bisa bersifat tekhnis atau substansi. Untuk memperbaiki hal-hal yang tekhnis, anda kembali memeriksa peta konsep untuk memastikan point-point di bawah ini.
  1. Pastikan semua konsep sebagai konsep besar atau utama.
  2. Pastikan semua telah memiliki hubungan antar konsep.
  3. Apa yang terjadi jika Anda memindahkan konsep “X” ke tempat lain?
  4. Apa yang terjadi jika And memindahkan “Y” ke tempat lain?
  5. Apa yang terjadi jika Anda mengubah arah panah?
  6. Apakah bentuk peta konsep ini yang terbaik?
Untuk memperbaiki hal-hal yang substansi, Anda kembali memerisa peta konsep untuk memastikan point-point di bawah ini.
  1. Pastikan semua label antara konsep bersifat substansi, mungkin hubungan itu besifat kausalitas (sebab-akibat), logis atau substansial.
  2. Apakah peta konep itu telah menggambarkan tabiat (natural0 bangunan struktur ilmu itu,
  3. Bisa juga dengan membandingkan denga karakteristik bentuk gambar yang lain,  seperti Flow-Chart atau Mind Map.
  1. c. Karakteristik Concept Map
Salah satu perangkat pengorganisasian bahan ajar disebut dengan “Concept Map” atau peta konsep.[7] Dalam konteks pengorganisasian bahan ajar guna persiapan mengajar untuk satu semester tertentu, Concept Map dapat digunakan sebagai cara untuk membangun struktur pengetahuan para guru dalam merencanakan bahan ajar.
Desain bahan ajar berdasarkan concept Map ini memiliki karakteristik khas. Pertama, ia hanya memiliki konsep-konsep atau ide-ide pokok (sentral, mayor, utama), kedua, ia memiliki hubungan yang mengaitkan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Ketiga, ia memiliki LABEL yang membunyikan arti hubungan yang mengaitkan antara konsep-konsep. Keempat, desain itu terwujud sebuah DIAGRAM atau PETA yang merupakan satu bentuk representasi konsep-konsep atau materi bahan ajar yang penting.
Concept Map sebagai satu tekhnik telah digunakan secara ekstensif dalam pendidikan. Tekhnik Concept Map ini diilhami oleh teori belajar asimilasi kognitif (subsumpition) David P. Ausubel yang mengatakan bahwa belajar bermakna (meaningful learning) terjadi dengan mudah apabila kosep-konsep baru proses balajar terjadi bila siswa mampu mengasimilasi pengetahuan yang ada dia miliki dengan pengetahuan yang baru.
Dengan mengambil ide dari teori asimilasi Ausubel, Novak mengembangkan teori ini dalam penelitiannya tentang siswa pada tahun 1974 dan ia menghasilkan Concept Map sebagai suatu diagram yang berdemensi dua yaitu analog dengan sebuah peta jalan yang tidak hanya mengidentifikasi butir-butir utama (konsep-konsep), tetapi ia juga menggambarkan hubungan-hubungan antara konsep-konsep utama itu sebagaimana banyak kesamaan garis-garis yang menghubungkan antara kota-kota besar yang tergambarkan dengan jalan-jalan utama dan jalan bebas hambatan. Pengembangan teori ini didukung dengan mempertimbangkan tiga faktor kunci, yaitu:
  1. Belajar bermakna melibatkan asimilasi konsep-konsep baru dan proposisi-proposisi ke dalam bangunan struktur kognisi yang memodifikasi struktur-struktur itu,
  2. Pengetahuan adalah terorganisasi secara hirarkis di dalam struktur kognisi dan banyak informasi baru melibatkan subsumption konsep-konsep dan proposisi-proposisi ke dalam hirarkis yang ada, dan
  3. Pengetahuan yang diperoleh dengan hapalan TIDAK akan tersimilasi ke dalam bingkai kognisi yang ada dan tidak akan memodifikasi bingkat proposisi yang ada.
Berdasarkan teori asimilasi kognisi, Putman dan Peterson menegaskan bahwa pengetahuan adalah struktur kognitif dari seseorang (knowledge is the cognitive structure of the individual). Selanjutnya Goldsmith, Johnson dan Alton menambahkan bahwa untuk dapat dikatakan “mengetahui” suatu bidang (pengetahuan) adalah seseorang dapat memahami hubungan antara konsep-konsep pokok dan penting di dalamnya. Pengetahuan tentang hubungan itu disebut “pengetahuan yang terstruktur” (structural knowledge)
Dalam teori ini ditemukan bahwa makna dari beberapa konsep itu akan mudah dipahami denagn melihat hubungan atau ketertarikan antara satu konsep denagn konsep yang lain, dan belajar efektif (bermakna) akan terjadi apabila pengetahuan yang baru itu dikaitkan /dihubungkan dengan konsep-konsep dan pengetahuan yang telah dimiliki oleh pengajar. Oleh karena itu, sub-sumption terjadi apabila pembelajar dapat mengkaitkan pengetahuan yang baru dan spesifik kepada konsep yang lebih general dan lebih tinggi (golongan, kategori) tingkatannya dalam struktur pengetahuan mereka yang telah ada.
Berkaitan dengan mendesain bahan ajar, tekhnik Concept Map ini memberikan sejumlah keuntungan. Pertama, sesuai dengan tabiatnya, ia akan memberikan visualisasi konsep-konsep utama dan pendukung yang telah terstruktur di dalam otak guru ke dalam kertas yang dapat dilihat secara empiris. Perpresentasi yang ada di atas kertas (baca:peta konsep) adalah satu gambar yang utuh yang saling berhubungan antara satu konsep/topic/materi dengan konsep/topic/materi yang lain. Kedua, gambar konsep-konsep menunjukkan bentuk hubungan antara satu dengan yang lain; mungkin linier, vertikal, satu arah, dua arah atau dua arah yang bertolak belakang, mungkin garis tidak putus yang menunjukkan hubungan intensif atau garis terputus-putus yang menunjukkan hubungan yang jarang. Ketiga, Concept map memberikan bunyi hubungan dinyatakan dengan kata-kata yang menjelaskan bentuk-bentuk hubungan antara satu konsep denagn konsep yang lain baik itu utama atau pendukung.
d. Karakteristik Tehnik Concept Map
Ada beberapa karakteristik sebagai teknik mendesain bahan ajar, yaitu:
  1. Biasanya berstruktur hirarkis, dengan lebih inklusif, konsep-konsep general di bagian atas kemudian kurang inklusif, konsep-konsep khusus diletakkan di bagian bawah peta[8].
  2. Kata-kata yang menghubungkan selalu ada di atas garis-garis yang mneghubungkan konsep-konsep.
  3. Concept Map mengalir dari atas ke bawah halaman. Tanda panah digunakan untuk menunjukkan arah hubungan.
  4. Sebuah Concept Map representasi atau gambaran pemahaman seseorang tentang sebuah masalah (mata pelajaran, topik persoalan).
  5. Kekuatan Concept Map berasal dari inter-koneksi diantara dan antara konsep-konsep.
  6. Perasaan seseorang mungkin terekspresikan ke dalam sebuah Concept Map dengan memasukkan konsep-konsep yang bernada empatis tentang sebuah konsep atau perasaan tidak suka terhadap sebuah konsep, atau perasaan stress, seperti ketakutan, kemarahan, kesenanagan, ketertekanan dll..
e. Urgensi Concept Map
Ada beberapa urgensi concept map ditinjau dari beberapa kepentingan ide-ide yang berhubungan. Artinya, Concept map merupkan satu bentuk diagram atau gambar visualisasi konsep-konsep yang saling berhubungan, kedua, concept map mampu menunjukkan arti hubungan-hubungan itu dalam bentuk label.
-          Concept Map Bisa Digunakan Untuk Tekhnik Mengajar:
Ada beberapa kegunaan Concept map sebagai tekhnik mengajar, yaitu:
  1. Ia bisa digunakan untuk memperkenalkan mata pelajaran. Ia bisa digunakan guru untuk memperkenalkan mata pelajarannya secara utuh keseluruhan materi dalam satu lembar dalam bentuk gambar dan dalam waktu yang sama.
  2. Ia bisa digunakan sebagai dasar untuk merencanakan pemilihan urutan materi perkuliahan. Seorang guru dengan leluasa dapat merencanakan pemiliha secara berurutan konsep-konsep yang akan di sampaikan di dalam proses pembelajaran.
  3. ia bisa berpern sebagai satu PANDUAN proses pembelajaran materi-materi perkuliahan, sehingga menjaga TIDAK terjadi kesesatan penyampaian bahan ajar yaitu tidak keluar dari peta perjalanan mata pelajaran.
  4. ia juga mendapat konsistensi pengontrolan penyampain materi dan menjaga batas-batas informasi luar masuk kedalam mater-bahan ajar.
  5. ia dapat membuat transisi antar unit bahan ajar karena ia dengan mudah dapat menunjukkan letak konsep-konsep sehingga dengan mudah seorang guru dapat membuat skala prioritas penyampain bahan ajar.
  6. Daya ingat akan gambar jauh lebih kuat bertahan dalam otak dibandingkan dengan mengingat susunan kalimat.
  7. Ia dapat juga beperan untuk meringkas bahan ajar. Karena ia hanya menunjukkan butir-butir penting tentang materi bahan ajar.
  8. ia juga dapat digunakan sebagai alat pertimbangan dalam PEMILIHAN strategi-strategi pembelajaran yang tepat. Karena konsep-konsep yang tertera dalam concept mapo dapat juga menunjukkan bobot informasi yang dikandungnya.
-          Concept Map Dapat Digunakan Untuk Strategi Belajar Bermakna
Ada beberapa kegunaan Concept map sebagai strategi belajar siswa :
  1. Ia dapat sebagai sarana belajar denagn membandingkan konsep map-konsep siswa dengan guru. Seorang guru dapat melakukan evaluasi terhadap sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi-materi perkuliahan yang akan atau/dan telah disampaikan. Karena peta-peta yang telah dihasilkan dapat menunjukkan tingkat penguasaan apa lagi jika dibandingkan dengan concept map yang baru dibuat guru.
  2. Ia dapat digunakan sebagai CARA LAIN mencatat pelajaran sewaktu belajar. Siswa dapat menggunakannnya sebagai alternative cara membuat catatan kelas yang biasanya bersifat naratif, kadang relatif panjang dan berpikir linier. Ini belajar aktif INDIVIDUAL.
  3. Ia dapat juga digunakan siswa secara INDIVIDUAL sebagai alat belajar dengan membandingkan peta konsep yang dibuat di awal denagn diakhir sebuah kelas. Siswa melakukan penilain mandiri terhadap sejauh mana penguasaan terhadap BAHAN AJAR dengan mencoba melihat perbedaan antara dua peta konsep yang dibuat di awal perkuliahan dengan di akhir perkuliahan.
  4. Concept map dapat meningkatkan DAYA INGAT siswa dalam belajar. Siswa belajar semakin efektif dan efisien karena siswa belajar berpikir reduktif dengan merangkum informasi yang banyak ke dalam konsep-konsep utama yang saling berhubungan ke dalam sebuah diagram atau gambar yang mengcover keseluruhan konsep-konsep yang dipelajari. Daya ingat pikiran kan sebuah gambar jauh lebih kuat dibandingkan dengan mengingat sebuah susunan kalimat.
-          Guna Concept Map Dalam Pembelajaran
Disampin urgensi di atas, Concept Map dapat juga digunakan dalam pembelajaran bila dilihat dari SEBELUM dan SESUDAH siswa mengetahui tekhnik pembuatannya. Seorang guru mungkin menggunakan Concept Map sebagai tekhnik untuk beberapa kesempatan, (sebelum siswa mengetahui langkah-langkah membuat konsep map), yaitu:
  1. Persiapan desain materi untuk semester. Anda akan menemukan Concept map dapat mempetakan konsep-konsep utama yang akan diajarkan selama satu semester dengan menunjukkan organisasi konseptual mata pelajaran. Cuma Concept map ini tidak mencatumkan konsep-konsep kecil atau minor.
  2. Persiapan mengajar persepsi. Mempetakan konsep-konsep informasi yang akan diajarkan di dalam pertemuan-pertemuan akan membantu guru menghubungkan rincian BAHAN AJAR ke dalam bingkai konsep utama.
  3. Persiapan mengajar per-topik bahasan. Pembuatan peta konsep pertopik bahasan mata pelajaran akan membantu guru menunjukkan kepada siswa letak hubungan konsep-konsep per-topik ke atau dengan bingkai konsep utama khususnya dalam pertemuan per-sesi kelas.
  4. Menghubungkan sesi kelas dengan tutorial, laboratorium atau studi tour misalnya atau seminar. Kegiatan tutorial, laboratorium dan seminar-seminar adalah kegiatan yang menjabarkan atau memperjelaskan atau memperluas atau memperdalam materi-materi yang didapatkan sewaktu kelas. Concept map akan membantu siswa memahami hubungan penting antara kelas di dalam kelas dengan kegiatan tutorial, laboratorium atau seminar-seminar. Contoh: Concept map kan menjelaskan posisi antara kelas teori di dalam kelas dengan praktek di laboratorium.
  5. Menghubungkan kelas sebelumnya dengan kelas yang akan diajarkan. Concept map dapat digunakan untuk menunjukkan urgensi dan posisi hubungan konsep-konsep yang akan diajarkan. Sehingga siswa akan lebih mudah mengikuti materi pelajaran karena mereka mencoba memahami hubungan antara konsep-konsep yang berhubungan.[9]
Apabila siswa telah mengetahui cara membuat concept map, seorang guru dapat memanfaatkannya untuk beberapa kesempatan aktifitas pembelajaran:
  1. Membuat rangkuman teks bacaan sebagai alternatif cara belajar seorang guru mungkin meminta siswanya untuk membuat satu rangkuman dalam bentuk concept map hasil bacaan mereka dari sejumlah buku yang ditentukan untuk dibaca. Bahakn anda mungkin meminta concept map siswa sebelum mulai kelas. Hal ini akan mendorong siswa membaca sebelum kelas.
  2. Menentukan pemahaman sebelumnya. Sebelum anda mengajarkan sebuah topic, anda mungkin meminta siswa membuat sebuah concept map tentang sejumlah konsep untuk memastikan anda sejauh mana siswa telah mengetahui topik itu. Keperdulian guru terhadap prior knowledge siswa membuat guru mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa.
  3. Melokasi kesalahan pengertian. Dengan meminta siswa membuat satu concept map sebelum atau sesudah diajarkan materi-bahan ajar dapat memberi perhatian kepada anda (guru) tentang kesalahan-pahaman ini dapat juga digunakan untuk memberi informasi kepada sesi kelas berikutnya.
  4. Mengembangkan rangkuman tugas-tugas semester. Setelah siswa anda memahami mata pelajaran yang dikembangkan, pengetahuan mereka semakin berkembang dan mereka akan dapat membuat koneksi-koneksi antara konsep-konep. Concept map mereka akan memantulkan perkembangan pemahamannya.
  5. Merangkum catatan-catatan ceramah kelas. Dengan tekhnik concept map ini mendorong siswa mem-peta-kan catatan-catatan kelasnya. Demikian itu membuat siswa merasa bertanggungjawab terhadap belajarnya.
  6. membuat kertaskerja-kertas kerja. Kadangkala siswa menemukan kesulitan dalam merencanakan dan mengurutkan informasi yang mereka akan sajikan dalam sebuah tugas kelas. Dengan mem-peta-kan tugas itu dapat membantu mereka mengurutkan materi dan melahirkan satu makalah yang utuh dan koheren.
  7. Evaluasi dan penilaian. Anda mnugkin meminta mahasiswa mem-peta-kan sejumlah konsep sebagai bagian dari ujian, kuis, atau ujian (dibawa pulang0. menurut Concept map adalah salah satu tekhnik diagnostik yang ekselen.
f. Keuggulan Concept Map
Keunggulan CONCEPT MAP terletak pada pemahaman yang terwakili di dalam concept map yang dihasilkan, pada proses pembuatan concept map-concept map, dan di dalam potensi proses memfasilitasi satu hubungan yang lebih antara guru dengan siswa.[10]
    1. Berbagi Pemahaman:
CONCEPT MAP adalah  satu  tekhnik pendidikan yang penuh  kekuatan karena baik siswa maupun guru dapat membuat dan berbagi concept map-concept map agar tercipta berbgai pengertian/pemahaman tentang topic. Dalam realitas, sesorang mungkin berusaha menjelaskan struktur kognisinya denagn banyak cara, termasuk narasi bicara, ringkasan tertulis, dan pembicaraan formal dan informal. Keterbatasan format-format itu terletak pada garis lurus yang membatasi kapasitas untuk menggambarkan secara utuh hubungan-hubungan yang dibuat seseorang antara dan diantara konsep-konsep. Denagn sebuah CONCEPT MAP, hubungan diantara dan antara secara eksplisit dinyatakan dan semua inter-koneksi diantara satu konsep dengan yang lain di dalam peta konsep dapat dilihat pada sekaligus.
    1. Proses Pembuatan CONCEPT MAP
Proses aktualisasi pemetaan konsep-konsep menuntut individu untuk menetukan hirarki konsep-konsep, memilih konsep-konsep untuk disaling-hubungkan , dan melukiskan tabiat yang tepat kesaling-hubungan diantara konsep-konsep itu. Sesaat menghasilkan sebuah peta konsep, ini adalah sebuah proses actual pengkonstruksian peta yang mendororng siswa mengkonstruksikan arti-arti.
    1. Hubungan
Concept Map dapat membantu memfasilitasi hubungan yang lebih sepadan antara guru (yang lebih berkuasa) dengan siswa (yang kurang berdaya). Dalam pandangan siswa, ada dua potensi penting dalam satu keadaan yang kurang berdaya dari pada guru yang lebih berkuasa; 1) menahan usaha-usaha hegemonitas guru, dan 2) melepaskan semua tuntutan untuk berkuasa, melepaskan pengawasan (kontrol) dan rasa tanggungjawab hanya semata di tangan guru. Proses pemetaan konsep memberikan siswa sejumlah kemerdekaan. Mengurangi kemungkinan siswa melawan dan mensabotase atau tergantung pasif.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Dengan beberapa uraian yang jelas di atas kita bisa menyimpulkan bahwa peta konsep atau concept map berfungsi sebagai bahan pembantu pengajaran yang bersifat lebih dinamis dan tidak kaku. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat.
Beberapa hal yang telah tertuang di dalam makalah seperti:
-          Melakukan braistroming atau curah gagasan
-          Menyeleksi kelompok-kelompok besar menjadi konsep-konsep besar yang merupakan inti materi.
-          Menggambar satu konsep dalam satu halaman
-          Memberi tanda atau menghubungkan arah-arah.
-          Memberi label atau garis-garis penghubung.
Adalah langkah-langkah penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan peta konsep. Dengan demikian dengan adanya peta konsep ini diharapkan pembelajaran akan meningkatkan hasil belajar siswa seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan urgensi peta konsep di atas.i

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar